Malam hari ini ditemani rintikan hujan dan gemuruh kembali memutar saat dulu, saat kita bersama terbalut dalam hangatnya cinta dalam dinginya malam. Pembicaraan yang sederhana mendegupkan geteran cinta yang selalu ku kenang. Candaan yang menghiasi malamku yang sepi. Semua terasa bahagia sampai aku tidak pernah memikirkan bahwa segala sesuatunya akan pergi, termasuk kamu.
Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan kebersamaan kita adalah cinta, tak pernah menilai pembicaraan kita adalah candu, dan hadirmu adalah yang ku nanti...Hingga aku sadar bahwa kamu selalu hadir dalam topik doaku, hingga aku sadar betapa rindu menghujam saat ku menantikan hadirnya kamu, hingga aku sadar begitu pesan darimu adalah alasanku tertawa dan ingin selalu ku pertahankan.
Kita pernah merasa betapa rindu itu menyesakkan, apalagi saat kita saling bungkam. Rindu saat tak terungkapkan, apalagi karena sesuatu yang menghalangi, sinyal rusak misalnya, atau karena aku lupa meletakkan handphoneku, misalnya. Kita pernah saling mengingatkan hingga perasaan manja yang selalu rindu akan hal itu. Kita pernah terbentang jarak dan berjauhan dalam jarak, manisnya cerita jarak jauh, rindu jarak jauh juga pernah kita lalui, kasih. Saat pesawatmu akan terbang, saat kamu sakit disana, saat kamu dibuat pening sama kerjaanmu, dan saat ujian sedang menghampirimu. Saat itu, hal sederhana seperti "hei" mampu menjadi obat kita berdua. Kita pernah terbuai pada larutnya malam, memperbincangkan hal yang serius atau sekedar menamani sepiku. Tak banyak yang bisa aku ceritakan tentang betapa kesan bersamamu membuatku kehilangan seperti saat ini. Tidak pernah ku sangka, hal seindah itu dapat aku lalui bersamamu, pria yang tak pernah sedikit pun aku pikirkan sebelumnya.
Sayang, malam ini hujan, aku sedang kesepian dan sangat merindukanmu. Saat saat begini pernah kamu hiasi dengan nyanyian dibalik rekaman suaramu. Suaramu terdengar berat namun tinggi dengan nada suaramu yang sedikit cadel, lucu. Saat saat begini aku sangat merindukan emote peluk dari mu yang entah mengapa seakan mampu mendekapku dan menghangatkanku. Saat saat begini aku pernah terlarut tidur saat bercerita denganmu kemudian terbangun dan kelabakan mencari handphoneku yang lagi-lagi lupa aku letakkan entah dimana.
Aku bingung, belakangan ini sering menulis tentang sebuah kenangan, sepi dan sedih. Tak lagi seperti dulu, hanya ada aku, kamu, dan cinta. Sekarang aku sadar, betapa semuanya akan kembali seperti dulu, saat kita adalah aku dan kamu. Sekarang aku sadar betapa dulu adalah kenangan yang harus aku tutup rapat-rapat. Sekarang aku sadar, kamu dan saat bersamamu akan berlalu sesuai berjalannya waktu.
Ku lihat kamu bahagia disana. Apakah kamu sudah menemukan tempat tujuanmu? Kamu tetaplah tersenyum dan tertawa, bahagialah dengan dia. Biarkan aku tetap kuat tersenyum dihadapanmu karena aku percaya senyum bahagiamu adalah bahagiaku juga, walau aku harus memalingkan pandanganku dari senyum mu itu saat dia mulai merasa sesak, walau aku harus menjauh dan pura-pura tertawa, walau aku harus duduk tertunduk dan pura-pura tertidur agar waktu dapat berlalu cepat. Aku pikir aku bisa sekuat baja bila melihatmu dengannya, tapi nyatanya sifat cengengku belakangan ini kerap muncul menghancurkan topengku. Tak disangka, aku masih menginginkanmu hadir dalam sedihku untuk menguatkanku.
Semuanya telah berubah. Aku senang mengenalmu selama ini. Aku sangat bersyukur akan pelajaran darimu.
Sukses dalam pekerjaanmu ya, kalau bisa kebiasaan merokokmu jangan kerap mengisi rutinitasmu, bibirmu mulai kehilangan rona merahnya karena terbakar, juga matamu berkurang pancaran sinar indahnya. Wajahmu tampak lesu belakangan ini, tapi tawamu meyakinkanku bahwa capek adalah kebiasanmu dan kamu akan kuat menghadapinya. Bahagialah sayang. Percayalah, kita akan sama-sama bahagia walau tidak bersama. Kalau Tuhan berkehendak, maka semua yang baik akan mengalir dalam kehidupan kita berdua.
Senin, 07 Oktober 2013
Jumat, 04 Oktober 2013
Tentang sebuah rasa
Pikirku dalam menelusuri setiap kemungkinan yang membuatnya salah, mengingat kembali kejadian demi kejadian yang menjerumuskan perasaanku, merimangi apa kata orang tentang kita dan membandingkannya dengan degup jantung yang seakan menerima, melihat suatu kepastian yang meyakinkan setiap rasa yang ada, aku mencintaimu.
Dalam setiap nanar pancaran mata indahmu, setiap tawa riangmu, setiap kata yang terucap dari mu, dan setiap perhatianmu...maka pertanyaanku berhenti menghujam pikiran yang saling menyerang dengan perasaan. Sebuah rasa itu muncul, berkembang sesuai berjalannya waktu, bersemi sesuai kehendakNya, hingga akhirnya aku memilihmu. Dengan setiap suka maupun duka, aku siap menjalaninya.
Namun....
Mungkin aku terlalu berani untuk menjalaninya, sebuah perasaan yang berjuang untuk bertahan walau tanpa kepastian.
Mungkin hatiku terlalu tegar untuk melihat betapa senyum mu tergores manis dan indah saat kau bersamanya.
Mungkin khayalku terlalu tinggi bila megharapkan kau disini, bersamaku.
Mungkin pikirku terlalu egois, karena tidak memikirkan perasaanku yang hancur mengetahui karena kamu dengannya.
Tapi bagaimana? Perasaan ini muncul begitu saja, berkembang dan terus tumbuh sesuai prosesnya. Seharusnya proses ku sekarang adalah melepaskanmu dan sejuta harapku. Namun yang ku dapat adalah perasaan yang semakin tulus untuk mencintaimu.
Kasih, bantu aku untuk menyadari bahwa kamu bukanlah untukku. Bantu aku membunuh perasaanku padamu. Bantu aku untuk kuat melihatmu dengan yang lain atau sekedar melihatmu tersenyum menatap layar handphonemu.
Jangan pancing aku untuk melirikmu dibalik kursi itu. Jangan buat aku menyimpulkan seulas senyumku karena tingkahmu. Jangan buat aku menatapmu dalam karena perkataanmu. Jangan dekat denganku, karena aku sangat menyukai aroma mu. Jangan kau lakukan semua itu bila akhirnya kau memunculkan khayalan ku tentang kamu dan dia.
Dalam setiap nanar pancaran mata indahmu, setiap tawa riangmu, setiap kata yang terucap dari mu, dan setiap perhatianmu...maka pertanyaanku berhenti menghujam pikiran yang saling menyerang dengan perasaan. Sebuah rasa itu muncul, berkembang sesuai berjalannya waktu, bersemi sesuai kehendakNya, hingga akhirnya aku memilihmu. Dengan setiap suka maupun duka, aku siap menjalaninya.
Namun....
Mungkin aku terlalu berani untuk menjalaninya, sebuah perasaan yang berjuang untuk bertahan walau tanpa kepastian.
Mungkin hatiku terlalu tegar untuk melihat betapa senyum mu tergores manis dan indah saat kau bersamanya.
Mungkin khayalku terlalu tinggi bila megharapkan kau disini, bersamaku.
Mungkin pikirku terlalu egois, karena tidak memikirkan perasaanku yang hancur mengetahui karena kamu dengannya.
Tapi bagaimana? Perasaan ini muncul begitu saja, berkembang dan terus tumbuh sesuai prosesnya. Seharusnya proses ku sekarang adalah melepaskanmu dan sejuta harapku. Namun yang ku dapat adalah perasaan yang semakin tulus untuk mencintaimu.
Kasih, bantu aku untuk menyadari bahwa kamu bukanlah untukku. Bantu aku membunuh perasaanku padamu. Bantu aku untuk kuat melihatmu dengan yang lain atau sekedar melihatmu tersenyum menatap layar handphonemu.
Jangan pancing aku untuk melirikmu dibalik kursi itu. Jangan buat aku menyimpulkan seulas senyumku karena tingkahmu. Jangan buat aku menatapmu dalam karena perkataanmu. Jangan dekat denganku, karena aku sangat menyukai aroma mu. Jangan kau lakukan semua itu bila akhirnya kau memunculkan khayalan ku tentang kamu dan dia.
Untukmu, pria yang datang dan pergi sesuka hatinya
Langganan:
Postingan (Atom)