Minggu, 04 Januari 2015

Ketika Mata Berbicara

"Kau tahu mengapa aku mencintaimu? Karena mata mu indah.."

***

Subuh ini aku terbangun dalam kesedihan, kembali mengingat setiap pembicaraan yang dulu jadi pembahasan kita. Kembali mengingat bagaimana dirinya menatapku dan sembari memancarkan senyuman manis. Aku merindukannya. Ya. Aku merindukan dua mata indah berwarna cokelat yang dilindungi oleh bulu mata yang panjang. Aku merindukan dua bola mata yang mengantuk saat tengah malam tiba. Aku merindukan dua bola mata yang terkadang berwarna merah ketika dirinya selesai mandi. Aku merindukan dua bola mata yang menatapku lembut saat aku sakit, hanya menatapku saja aku merasa ada dorongan yang mengajak aku untuk tetap semangat. Aku merindukan kedua bola mata yang tersenyum saat aku sedang marah. Aku merindukan kedua bola mata yang menatapku sayu ketika dirinya sedang kelelahan. Aku merindukan kedua bola mata yang berbinar ketika dirinya tertawa. Aku merindukan kedua bola mata yang sering ku kecup saat kita bersama...... Bahkan aku sangat merindukan kedua bola mata yang tidak menatapku sekarang walaupun dirinya sedang senang atau sedih, walaupun disini diriku menatapnya.

Hingga akhirnya aku terbangun, dalam kesesakan dan kerinduan, dalam kenyataan bahwa dirinya tidak akan kembali...

***
"Kenapa dengan mataku?"
"Karena mata tercipta bening jadi kita bisa liat ketulusan didalamnya.."

Jumat, 26 Desember 2014

Surat Cinta untuk Sang Hati

Hai... Bagaimana kabarmu, hatiku?


***

Seandainya dari awal aku mendengarkan mu, mungkin aku tidak akan memberikan kamu kepada seseorang yang malah menyayat-nyayat dirimu. Seandainya dari awal aku mendengarkan kamu, kamu akan tetap tenang dialiri darah tanpa harus merasa sesak.

Kau sungguh  hebat, masih mau menemaniku walau dalam pengabaian yang begitu hebat dari ku. Kau mengingatkanku dengan pelan sampai pada kenyataan yang menyedihkan. Namun kau tetap dengan lembut menyapaku dalam doa dan menguatkanku.

Maaf telah membuatmu bertahan terlalu lama dalam penantian. Maaf telah memaksamu menunggu tanpa tahu betapa sakitnya dirimu tanpa kejelasan. Maaf telah memberikanmu pada seseorang yang tak menginginkanmu...

Aku menyerah..

Takkan lagi ku rusak bahagiaku hanya karena rinduku. Takkan ku biarkan kau menunggu terlalu lama. Aku pulang, bahagialah hatiku.

***

Jika kelak ku temukan penggantinya, ku pastikan dia selalu membuatmu bahagia tanpa tanda tanya dan luka, lagi.

Kamis, 07 Agustus 2014

Hujan

Hujanku masih tetap indah, dengan segala kesejukan yang menyelimuti badanku walau kini tak sepatah katapun yang terucap pada sebuah perpisahan.
Hujanku masih tetap indah, walau sudah terdapat cerita yang berbeda.

Hujan dapat memberikan tawa kehangatan namun juga dinginnya hati yang terluka.
Hujan dapat memberikan pelukan hangat, namun dapat juga membiarkan kaki yang melangkah sendiri sembari menutupi air mata.
Hujan dapat memberikan cinta, namum dapat juga menjadikannya sebuah kenangan....

Setiap tetesan hujan terdapat banyak ingatan. Biarlah mengalir hingga mentari memberi senyum baru.

Pergilah, hujanku. Aku terlalu lemah dengan dinginnya berbagai kenangan itu.

Selasa, 29 Juli 2014

Rumah

"Bila kelak kita berada pada rumah yang berbeda, ingatlah aku adalah teman baikmu yang pernah memimpikan rumah yang satu atap bersamamu," -unknown.

Yang terbersik dalam benakku adalah, "Bagaimana rumah idamanmu bersama dia sekarang? Apakah kalian membicarakannya dengan serius atau hanya sekedar saat melewati perumahan dan menjadikannya bahan pembicaraan?" Aku yakin, kau sudah sangat yakin untuk hal itu.

Aku tidak mengharapkan semuanya kembali, hanya saja ingatan itu yang datang lagi menjadi kenangan. Tenanglah, aku bahagia dengan keadaan seperti ini........ Namun kadang ku harap kau kembali dalam hari-hari ku, menemaniku dalam tawa dan sedihku, menanyakan kabarku dan mengkhawatirkanku, menyapaku di pagi hari dan menemaniku dalam malamku..... Atau minimal, Tuhan mengirimkan kepada ku yang seperti mu. Yang mengharapkan tinggal pada atap rumah yang sama yang di dalamnya ada furniture merah dan hitam, punya aquarium, dan halamannya tidak terlalu luas. Like we used to.

Selasa, 17 Juni 2014

"Sayang"

Masih di tempat yang sama dengan keramaian kota yang sama dan lampu jalan yang sama. Pembicaraan sederhana yang melingkupi sebuah cerita

***

Kamu sayang ya sama dia? 

Tanpa langsung menjawab namun dengan sedikit tertawa, aku mencoba mengingat  kembali kejadian demi kejadian. Pertanyaan sederhana muncul, "Kenapa bisa tanya begitu?".... Kelihatan kok, walau hanya dari senyum.

Aku tertawa lepas sekali sembari mengingat-ngingat hal yang barusan kami lakukan sehingga menimbulkan spekulasi dari penonton :D

***

Mungkin aku merindukannya, karena aku sudah lama tak melihatnya. Namun tidak ada bedanya aku dengan orang lain yang mulai merasa bahwa hadirnya sudah jarang. Jadi ku pikir itu biasa. Sedikit pembicaraan singkat kami

"Hei. Cemana tadi?" tanyaku sambil menyentuh sedikit jarinya.
"Ya.. begitulah. Kok makin kurus?" tanyanya sambil menatap ku polos.
"Ah, perasaanmu aja itu."

Simple sekali. Aku bahkan tak merasakan sesuatu yang aneh. Hanya saja mungkin karena banyak perbedaan, dia terkesan manja.

"Ayok main catur."
"Ga pande lah. Tapi ayoklah, ajari aku tapi yah."
Dengan bengaknya aku susun biji2 catur itu sambil mencontek susunan punya dia. Ternyata aku mengambil catur bagian putih, sama seperti punya dia.
"Loh? Kok punya mu banyak aku sikit? Cemana mainnya?"
"Namanya kamu ambil yang putih juga. Ini kita mau lawan atau team? Kalo team kita lawan siapa?" jawabnya sambil tertawa dan menyimbunyikan kebingungannya dari awal aku main.
Satu satu dia ajari aku langkah bermain catur. Setelah itu ku biarkan dia yang pertama jalan. Lalu dia miris menatapku dan memberi kode.... "Kalau yang Pangeran dah mati, kamu kalah yah." Dan.... Seketika aku buka jalan, Pangeranku mati-_-

Masih simple. Dan aku ga kepikiran.

Kami banyak cerita. Kompak. Ya, sama seperti yang lainnya. Ketika tukang pecel lewat, dia mendatangi...

"Ayo makan, nanti kurusan lagi."
"Ahh masih kurang nih."
"Aku suapin nah?"
"Oo gausahlah, biar ku beli aja. Enakkan telur atau hati?"
"Telur aja."
Aku beli dua, satu lidi aku kasih dia.
"Nanti aku makin sayanglah sama mu", katanya masih dengan muka yang polos. Tanpa menoleh apalagi menjawab, aku hanya mendengus.



Dia polos, tapi berwibawa. Tetap lucu dan manis (re: masih dengan mata sayu dan brewok)
Dia manja, tapi perhatian. Dia apa adanya, dan aku suka.


"Habis ini mau kemana?" tanyanya sambil menunjukkan perutnya yang buncit.
"Ih big pack ya," ejekku sambil, memainkan perutnya. Ku rasa aku getek-_-
Dan tanpa basa basi aku menjawab, "Aku ga ada adek cowoklah."

***

"Iya aku sayang, tapi tidak lebih sebagai adek," jawabku pasti.

***

Lalu aku teringat dan tersadar. Aku sekarang tidak ada bedanya dengan dia yang dulu.
Dan aku termenung, "Aku yang masih biasa saja dengan pria itu sudah ketahuan sayang, bagaimana lagi dia? Dia seseorang yang selalu kedoakan bahkan dibarengi airmata dan walau hanya melihat sekecil dari mulutnya saja aku tahu dia sakit. Lalu, apa mungkin dia tidak sadar?



Aku sudah lama untuk tidak berbagi cerita dan tawa dengan pria yang tepat yang beri kenyamanan. Itu pernah terjadi dan hasilnya tidak bagus. Dan aku sadar bahwa, ternyata aku pernah menyayangi seseorang dengan tulus.

***

"Kalau di gedung ini bisa banyak terima kantoran," ceritanya dulu tepat dijalan yang sekarang aku berhenti, airmata ku mengalir.



Selasa, 17 Juni 2014. JW Marriot, Medan.

Senin, 09 Juni 2014

Biasa namun Tidak Biasa

Aku tidak bisa mengelak untuk menjawab, "Sama kayak aku dulu, dulu aku juga begitu...." dari pertanyaan yang menyangkut soal perasaan.

Bagaimana bisa aku melupakannya dan menghindar darinya, padahal hanya melihat dia saja aku sudah tertawa?

Pertanyaan sederhana yang mungkin setiap orang dapat menjawab, "Yaudah, anggap saja dia seperti orang lain biasa yang juga membuatmu tertawa". That's not as simple as you said.

Sebenarnya, orang yang kita sukai itu sama dengan orang orang lain. Tapi yang buat beda itu perasaan kita ke dia. Kita sudah nyaman dengan dia, merasa bahagia saat ada dia, dan yang paling bikin addicted itu ya, kita sudah terbiasa dengan dia.

Banyak yang lebih dari dia, tapi yang lain itu bukan dia dan sulit kalau bukan dia. Membiasakan diri tanpa dia? Jadi, pada siapa lagi tawa ini lepas? Pada siapa lagi keluh ini bersandar? Pada siapa lagi airmata ini dihapuskan? Pada siapa lagi degup ini berdetak kencang kalau bukan dengan seseorang yang special itu?

Mungkin salah satu caranya adalah, tidak mendewakan alasan "Cinta itu muncul karena terbiasa"


Aku harus mundur perlahan ya? Bagaimana caranya?

Hal yang paling menakutkan dari pertanyaan ini adalah; hari hari tanpanya. Hari hari tanpa pesan singkat disetiap pagi dan malam, hari tanpa cerita lucu sampai sedih, hari tanpa nasehat sampai kekonyolan bersama dia, hari tanpa diingatkan ini itu dari dia. Ya, kehilangan dia; seseorang yang separuh waktumu habis bersamanya. Separuh bahagiamu alasannya adalah dia, namun kini setiap tangismu adalah karena dia? Lalu bagaimana caranya?

....

Aku sedikit sulit menjawab bagian ini. Malam itu, dikeramaian kota dan indahnya lampu malam, tepat dijalan ini aku kembali teringat pada saat dulu. Saat dimana ramainya klakson dan suara orang-orang sekitar yang tidak terdengar lagi karena bahagianya kami berdua. Seakan dulu tak mau terganti, namun inilah aku sekarang; tanpa dirinya, tanpa tawanya, tanpa kekonyolannya.... dan aku masih baik-baik saja.

Solusinya cuma satu, jangan memaksa.

Memaksa segala ingatan itu tetap dikhayalan kita, memaksa dia harusnya dengan kita, bahkan memaksa untuk melupakannya. Biarkan berjalan apa adanya. Iklaskan dia pergi dengan bahagianya sekarang. Dan yang paling membuat tenang adalah, harapkan yang terbaik untuk kedua belah pihak.



Tidak ada yang salah dari sebuah pertemuan. Tidak ada yang salah dari setiap orang yang datang dan pergi dalam hidup ini. Tidak ada yang salah dari setiap tetes airmata kerinduan. Tidak ada yang salah dari setiap harapan. Tidak ada yang salah dari semesta yang mempertemukanmu dengan dia dan memisahkan mu secepat kau tidak menduganya. Yang salah adalah saat kamu tidak membiarkan dia berjalan apa adanya. Let it go.

Tapi aku sayang dia....

:)

Tersenyumlah. Karena senyum adalah sebuah lekukan yang meluruskan setiap masalah.
Tersenyumlah. Karena orang yang kamu sayangi masih bahagia dengan pilihannya.
Tersenyumlah. Karena dia yang kamu sayangi membentukmu menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang ini.







Inspired by my another beloved sista. You are what you think.

"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." -Mazmur 147:3♡

Minggu, 13 April 2014

Tak Pantasku

Malam itu ditengah hujan yang rintik-rintik, aku tertawa bersama mereka. Bahagia sekali. Tapi akan lebih lengkap lagi bila ada kamu disana yang walau dengan tampilan paling burukmu. Aku tidak mendengar sedikitpun lawakan yang biasa kamu ucapkan itu, kecuali kalau aku yang mengucapkannya. Seandainya ada keajaiban, pria berkulit sawo matang yang manis dan alis mata hitam tiba-tiba muncul dibalik hujan itu... Apakah mungkin aku bisa mendengar suaranya sebentar saja?

Ingin rasanya ku pulang dan menerpa hujan malam itu, karena aku tersadar bahwa aku salah. Iya, aku salah merindukanmu karena kau bukan milikku, tapi aku benar mencintaimu; dan ini menyakitkan. Ku coba untuk menyangkal segala rindu dan ku pandang pada kenyataan yang ada, tapi yang ada aku semakin merindukanmu walau aku tak pantas.

Ditengah keramaian dan tawa itu aku menyadari bahwa hal yang paling merindukan bukan lagi raganya apalagi kenangan bersamanya, melainkan perasaan yang dulu pernah merindukannya dengan sangat.

***

"Kamu ceria sekali malam ini", katanya lesuh dengan muka paling lelahnya sambil memegang pinggangku dan tertawa lembut. Aku hanya bisa meledeknya dan menarik pelan hidungnya yang mancung. Menatap matanya yang indah dan rambutnya yang ikal adalah kenangan yang paling indah. Saat itu hatiku berdegup kencang karena menyadari bahwa pria yang ku rindukan juga merasakan rindu itu. Dan aku merindukan saat seperti itu....... Bukan ketika aku merindukanmu dan ingin menangis, aku malah harus pura-pura tertawa dan mengatakan, "Sudah tidak lagi, kok."