Kamis, 21 November 2013

Awalnya Sih

Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai malam tiba semua yang telah kita lalui meramaikan pikiranku sebelum tidur.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai pertemuan begitu menjadi hal yang suram bila ada yang terlewatkan sedikit pun.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai aku ingin menghentikan waktu bila kita sedang bersama.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai namamu entah mengapa sering terucap saat aku bercerita dengan teman-temanku.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai ntah mengapa saat teman-teman mengusik tentang hubungan kita ada bahagia yang terselip.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai detail cerita yang harusnya aku sembunyikan malah aku bagikan dengan mu.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai akhirnya sebuah lagu cinta mampu membawa mu kedalamnya.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai akhirnya aku terdiam saat teman-teman bilang "kalian cocok banget"
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai suatu saat aku tersadar betapa doaku banyak menyebut nama mu.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai bila melihatmu dalam kondisi burukmu ada perasaan ingin memberi perhatian padamu.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai jantung ini sering berdetag saat bila melihatmu hanya tersenyum sederhana saja.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai aku pernah meneteskan air mata agar kamu baik-baik disana.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai dada ku sering terasa sesak ga tahu ntah kenapa dan saat melihatmu hadir sepertinya aku melemah.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai sepi yang kurasa saat melihat handphone ku tidak ada notif dari kamu lagi.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai akhirnya aku tahu kamu sudah dengannya.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai aku harus membunuh rinduku padamu dan menutupi bahagiku saat kau hadir di hadapanku.
Awalnya sih aku baik-baik saja, sampai aku sadar betapa aku harus kuat untuk melupakanmu dan melepaskanmu.

Awalnya sih aku baik-baik saja..........................................
                                                                 Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku jatuh cinta padamu.

Senin, 18 November 2013

Pria di Balik Panggung

Ku pandangi butiran keringat di kepalamu, mata mu yang redup seakan ingin terlelap, keringat di baju mu, bibirmu yang kau gigit pelan saat mengangkat barang yang berat itu.... Kau begitu sempurna.

Sesekali ku dengar tawa mu yang bahagia seolah kamu tidak masalah dengan apa yang sedang kamu kerjakan saat itu. Candaanmu juga masih bisa ku dengar manis. Dan hingga ragamu mulai letih, ku lihat kamu terduduk pasrah di tangga panggung itu, melap keringat yang mengerumuni muka dan sekujur tubuhmu, menghela napas panjang, dan menegak air minumanmu. Batin ku bergejolak, "Indahnya yang akan menjadi kekasih mu kelak".

Tak akan hentinya aku memujamu, mengagumi mu dari sesi letihmu, dari sisi kucel mu, dan dari sisi hela napas tanda capekmu. Betapa punggumu yang terasa berat ingin ku usap lembut sembari membisikan cerita seru dan melap keringat di leher belakangmu. Betapa rambutmu yang basah ingin ku kucek-kucek sambil tertawa cekikikan dengan mu, serta kacamata mu yang mulai mengkusam ingin ku bersihkan. Iya. Betapa aku mencintaimu mulai dari kekuranganmu hingga lebih mu.

Dari semua khayalan dan harapanku, ternyata aku hanya bisa memilih untuk menundukkan kepala dan menghela napas panjang, menutup mata dan mendoakan kamu agar diberi semangat dan kesehatan. Kembali membuka mata dan membangkitkan kepala, tersenyum simpul dan pergi dari tempat persembunyianku; iya, persembunyianku untuk menatapmu dalam diam.



 Dari aku,
Pemuja rahasia mu yang berharap lebih dari sekedar diam.

Jumat, 15 November 2013

Selamat Pagi

Bagaimana tidurmu? Nyenyakkah? Atau semalam kamu bergadang lagi? Permainan apa yang mengganggu tidur mu? Aku harap tidak merusak kesehatanmu ya.

Pagi ini masih terlalu subuh untuk ku merasakan kerinduan. Untuk sebuah keinginan sekedar menyapamu di pagi hari.

Selamat pagi, kamu... Pria yang harus ku tutup rapat sebuah kenangan indah bersama
Selamat pagi, kamu... Pria yang dulu mampu menjadi mentari yang sanggup menghiasi hari
Selamat pagi, kamu... Pria yang dulu menyapaku manis dibalik telepon
Selamat pagi, kamu... Pria yang terlalu indah tuk kulupakan
Selamat pagi, kamu...

Semoga hari ini dan esok lekas berlalu. Iya. Berlalu bersama rasa sayang dan rinduku yang harus segera memudar. Semoga pagi di esok hari tak lagi bangun dengan rindu yang menyesakkan dada. Semoga pagi di esok hari mampu melihat update-an mu menyapa pagi wanita mu. Semoga pagi di esok hari ku dapat bersinar kembali yang ku dapat dari mentari yang baru. Semoga pagi ku kelak tak meninggalkan ingatan bahwa malamku pernah di akhiri oleh air mata. Semoga pagiku dan pagimu tetap bersinar indah tanpa kerinduan untuk bersama.


Selamat pagi. Ini pagi kesekian aku melupakan bahwa aku harus melepaskan mu.

Kamis, 14 November 2013

Tak Bisakah

Waktu memang tidak berpihak pada kita, semesta hanya memberi kita kesempatan yang sangat singkat untuk sebuah cerita cinta. Malam kita sudah tidak lagi sehangat dulu, pagi kita tak lagi secerah mentari yang menyapa hari baru. Senyum mu tak lagi selembut yang ku dapat selama ini. Sapa mu tak lagi ku dengar. Bicara mu tak lagi sehangat dulu namun sekarang menimbulkan luka. Ragamu tak lagi menjadi yang ingin ku dekap selalu namun kini selalu ingin ku hindari. Kamu........ tak lagi seperti yang aku kenal dulu.


:'(

Aku sangat bersedih. Tak bisakah sejenak kamu menolehku tanpa sebuah sapaan seperti dulu? Tak bisakah sebentar saja kamu meminjamkan bahumu untukku bersandar? Tak bisakah sebentar saja aku meminjam tanganmu untuk mengusap lembut kepalaku? Tak bisakah sebentar saja aku meminjam suara untuk sebuah nasihat yang membangunku? Tak bisakah sejenak kau hadir menemaniku?

Tak bisakah kamu sekedar pergi namun tak merubah sifatmu kepadaku? Merubah kelakuanmu terhadap ku? Karena perubahanmu membuatku semakin merindukanmu. Iya. Merindukan kamu yang dulu.



Tak bisakah kamu bertingkah seolah kita memang tidak pernah bersama hingga berpisah? Tak bisakah kamu tidak meneteskan air mataku lagi? Pergilah tanpa menghilakan luka dan kenangan. Pergilah, anggaplah aku seperti teman-teman yang lainnya. Ya. Seharusnya begitu, karena kamu bukan siapa-siapa ku dari awal. Jadi, apa yang harus membuatmu berubah?

Rabu, 13 November 2013

Aku Menunggumu

Kembali ku tatap layar handphone ku, lagi lagi aku harus menarik napasku dalam untuk menguatkan diriku tuk melihat notif dari mu sejak saat itu tak pernah ku terima lagi. Ku buka daftar recent update ku untuk mengechek siapa tahu kamu ada update, lumayan, sedikit info dari kamu yang bisa ku terima...tapi nyatanya juga tidak ada. Oh Tuhan, apa kabar kamu disana?

Sekedar ku chek chat history kita, ternyata masih sanggup membuatku cekikikan. Lalu tanpa sadar ku lupakan pesan masuk dari dia, iya, dia, penggantimu. Ku pejamkan mataku, ku tarik napasku, dan hei, ada bulir kecil keluar dari mataku. Ku hapus dia dan kembali ku kuatkan diriku. Iseng ku melihat memoryku, ternyata lagi lagi ada kamu beserta kenangan kita, hasil chat capture-an tidak mau kalah tuk menuntunmu kembali dalam ingatan. Manis sekali saat dulu. Tak pernah ku sangka, hal semanis ini dapat ku lalui bersamamu, orang yang tak pernah kubayangkan sedikitpun dulu.

"Tuhan, tak dapatkah Engkau kembalikan dia untuku lagi?" pintaku dalam hati ketika melihat foto itu, saat kau tertawa lepas dibalik punggungku dan merangkul leherku lucu, alis matamu yang tebal dengan kacamata dan behelmu membuat kamu terlihat sempurna tuk jadi masa lalu ku. Terbentang lebar ingatan dulu saat foto itu akan dibidik, di taman cinta biasa kita sebut, sambil melihat anak-anak tertawa riang sambil kita berkomitmen lucu. "Nanti anak kita gak kalah lucunya dari mereka", katamu sambil kembali menggelitiki ku. Begoknya, seharusnya kita sadar 2tahun bersama itu belum menjadi patokan kalau kita berjodoh ya.

Tawa ku kembali memancarkan sosok yang seolah kuat, saat melihat foto kau merangkulku dengan pancaran tak ingin kehilanganku, di depan hiasan bunga pesta pernikahan teman kita. Dulu ada banyak doa dan harapan teman-teman saat kita foto disitu. "Semoga cepat menyusul ya", kata mereka yang hanya bisa membuatku terdiam untuk mengaminkan, menatap ke arah mu dan melihat pancaran tulus dari matamu sembari mengusap kepalaku. Oh Tuhan, betapa indah dia Kau berikan padaku.

Di bangku ini, ku melihatmu disana, tertawa indah dengan yang lain lalu melihat ke arahku dan tersenyum. Sungguh, ku tak ingin kehilangan senyum itu. Di depan ini aku melihatmu sedang memimpin pembicaraan, hati ini berdegup saat ku rasa sepertinya amarahmu muncul, namun kau menatapku seolah kau butuhkan aku disampingmu. Hanya senyum yang bisa ku beri, karena kurasa doaku telah menguatkanmu, ya, kamu nampak lagi tarik nafas dan aku lega bahwa amarahmu telah berlalu. Ku tundukkan kepala ku dan lagi-lagi ku panjatkan doaku, aku tak mau kehilangan degup jantung ini Tuhan, yaa degup jantung bahagia yang berdetag sesuai detag jantungnya.

Ya, semesta telah memisahkan kita. Memisahkan kita dengan mudahnya dengan alasan ketidak cocokan. Setelah suka duga kita lalui dengan seimbang namun tetap harus berpisah. Jodoh memang tidak ada yang tahu.

Tapi disini masih ada keyakinan ku padamu, masih ada harapku untukmu. Ini bukan salah aku atau kamu makanya kita berpisah, ini hanya ujian untuk keabadian kita bersama. Semoga disana kamu masih setia mendoakanku ya, masih menopang kuat fondasi cinta kita.

Aku masih menunggumu disini, dibalik telepon sambil bercerita cerita seru kita seharian, di teras rumahku bermanja-manja ria,  di ruang petak ini sembari melantunkan lagu indah yang kita bikin ruwet karena permainan piano kita yang abstrak, di Gereja sambil berdoa untuk hubungan kita kelak. Aku masih menunggumu.




Jika kau lelah dalam pencarianmu, ingatlah aku disini. Sosok yang dulu kau perjuangkan dan tak ingin kau lepaskan.
Jika kau dibuat susah karena pekerjaanmu, ingatlah aku disini. Sosok yang bisa membuatmu tertawa dan mengusap kepalamu ringan.
Jika kau inginkan bahu untuk bertopang, ingatlah aku disini, tempatmu yang kau percayakan untuk susah dan sedihmu.
Jika kau rindukan aku, aku kan selalu ada untukmu.

Selasa, 12 November 2013

Untaian Doaku padaNya, tentang Kamu

Selamat pagi, Tuhan...

Pagi ini sungguh indah, waktu menunjukkan pukul 05.00 dan aku menemukan diriku di hari yang baru lagi dan berkat yang baru lagi. Aku terjaga dalam tidurku dan tak lupa Engkau membangunkan aku, Terimakasih Tuhan. Pagi ini ku dengar Mama memanggil namaku dalam lelapku, merdu sekali suaranya, semoga Engkau selalu memberkati dia Tuhan. Papa juga, walau jauh disana, ku yakinkan dia dalam naungan kasih Mu, Tuhan

Tuhan, pagi ini dadaku merasa aneh. Dia seperti merindukan seseorang. Tapi ku yakinseseorang ini sudah tidak rahasia bagiMu dan rindu ini tak hal yang baru yang ku panjatkan untukMu. hhehe.

Tuhan, Engkau tahu, rinduku ini tidak akan terucap dan terbalas, namun ku serahkan rinduku padaMu, Tuhan. Salurkanlah Bapa rinduku padanya, peluk dia erat Tuhan agar dia dapat merasakan disini betapa aku merindukannya. Tuhan, engkau juga yang menjaga dia satu hari ini yaa. Beri dia hikmat kebijaksanaannya dalam setiap aktifitasnya. Jaga dia dan beri kesehatan, Tuhan. Karena ku lihat dia semakin kurus. Jangan hilangkan pancaran sukacita dari letihnya, Tuhan.

Tuhan, bila disana ada pasangannya yang lain yang bisa memberi dia semangat dan doa secara langsung kepadanya, ku harap semoga pasangannya itu yang terbaik, Tuhan. Tumbuhkan cinta yang tulus dihatinya dan rasa menyayangi yang indah yang dari padaMu. Ku harap cinta dan sayangnya mampu melebihi dari apa yang telah ku miliki. Jaga hati wanita itu Tuhan agar orang yang ku cintai tidak terluka. Tuntun mereka dalam kasihMu

Tuhan, ini terdengar sedih bila mendoakan mereka. Tapi aku percaya, bila ini rencanaMu maka semuanya akan indah. Bahagiakan dia, Tuhan. Karena bahagianya adalah suka ku, karena senyumnya adalah yang selalu ku rindu, karena raganya yang sehat adalah berkatMu yang sangat ku kagumi.

Tuhan, kuatkan aku ya. Bila suatu saat nanti aku merasa sedih dan kehilangan dia, erat aku Tuhan. Hapus sedih dan airmataku. Bisikan padaku bahwa dia bahagia dan baik-baik saja disana. Jaga kami berdua, beri kami kebahagian bersama walau mungkin tidak bersama.

Waaa, indah sekali pagi ini bercerita denganMu, Tuhan. Apapun yang masih tersimpan dihati ini, ku yakin Kau telah mengetahui seluruhnya.


Terimakasih Tuhan. Amin

Minggu, 10 November 2013

I love you... goodbye.

Selamat malam, kamu. Sudah cukup larut malam ini, waktu menunjukkan pukul 22:22. Letih pasti mengerumuni sekujur tubuh ini. Lantunan lagu menemani ku di ruang petak kecil ini, bersama bayanganmu dan saat bersamamu tentunya. Tersadar ku kali ini aku hanya menatap nanar kearah jendela, sepi....penuh tanda tanya...dan bayangan yang seolah menghujam dadaku hingga sesak yang kurasa. Aku tersadar, betapa dulu malamku terbalutkan senyum penuh syukur. Hei, kita sudah berakhir ternyata.

Apabila kamu tidak mau ku masukkan dalam tulisanku, aku hanya ingin lontarkan maaf. Namun baiknya kamu sadar, betapa cerita yang tertulis entah mengapa menjadi sebuah kenangan yang patut untuk dikenang; secepat itu.

Seandainya canda dan ceritamu tidak seindah dulu, ku yakin itu tidak akan menjadi candu bagiku. Seandainya perasaan nyaman tak menyelimuti kita berdua, ku yakin malam ku tidak rapuh karena rindu yang tak terucap. Seandainya rasa tak ada dan muncul begitu hebatnya, ku yakin aku akan tegar melihat mu dengannya.

Kita mungkin sudah salah dari awal. Membiarkan semesta menyatukan kita hingga enggan untuk tak berjumpa. Kita sudah salah dari awal, karena membiarkan pagi dan malam menjadi manja akan ucapan semangat dan untaian doa. Kita sudah salah dari awal, karena membiarkan kesempatan menjadi kebiasaan. Kita sudah salah dari awal, karena mempergunakan waktu bersama. Kita yang salah atau aku saja yang salah karena aku terlalu memikirkannya?

Lalu, apa sekarang? sudah? baiklah....

Intinya begini, kamu, apapun yang kamu lakukan disana ku harap semua yang terbaik. Dan selalu yang terbaik harapku untukmu. Apapun pilihanmu, ku yakinkan kebijakanmu. Apapun bahagiamu, ku doakan menjadi keabadianmu.

Sayang, tak ada penyesalan di batin ini, tak ada kekecewaan. Kamu tahu mengapa? Karena kamu pilihanku, suka duka kelak yang ku dapat, ku pastikan itu yang terbaik, karena memang kamu yang terbaik. Sayang, hatiku sanggup disini bukan karena tegarku, tapi karena betapa banyaknya pelajaran berharga darimu yang menopangku erat.

Tapi terkadang aku sangat merindukanmu. Bila disana kamu merasakannya, tolong jangan hampiriku. Kamu hanya perlu memelukku dalam doa, mungkin tak rupamu; karena aku bisa lupa kalau aku sedang berusaha untuk melupakanmu. Bila mungkin hem...disana kamu tak merasakan rindu seperti ku, aku bisa apa? :')

Hei,

Kamu terlalu indah untuk sebuah luka. Kamu terlalu sempurna untuk ukiran yang menyayat hati ini. Kamu terlalu berharga untuk tetesan airmata yang terbuang sia-sia.

Terimakasih untuk kesempatan bersama yang menyelimuti bahagiaku, terimakasih untuk perpisahan yang mengajarku untuk tegar. Terimakasih telah hadir, karena mampu memberiku bahagia, suka, duka, rindu yang seimbang.

Ingat ya, jangan kembali lagi ya. Jangan tulis cerita baru lagi. Karena kurasa aku butuh buku dengan lembaran baru yang mampu menuliskan cerita bahagiaku yang abadi.






I love you... goodbye. I'm glad to know you. Thank God and thanks you :)