Masih di tempat yang sama dengan keramaian kota yang sama dan lampu jalan yang sama. Pembicaraan sederhana yang melingkupi sebuah cerita
***
Kamu sayang ya sama dia?
Tanpa langsung menjawab namun dengan sedikit tertawa, aku mencoba mengingat kembali kejadian demi kejadian. Pertanyaan sederhana muncul, "Kenapa bisa tanya begitu?".... Kelihatan kok, walau hanya dari senyum.
Aku tertawa lepas sekali sembari mengingat-ngingat hal yang barusan kami lakukan sehingga menimbulkan spekulasi dari penonton :D
***
Mungkin aku merindukannya, karena aku sudah lama tak melihatnya. Namun tidak ada bedanya aku dengan orang lain yang mulai merasa bahwa hadirnya sudah jarang. Jadi ku pikir itu biasa. Sedikit pembicaraan singkat kami
"Hei. Cemana tadi?" tanyaku sambil menyentuh sedikit jarinya.
"Ya.. begitulah. Kok makin kurus?" tanyanya sambil menatap ku polos.
"Ah, perasaanmu aja itu."
Simple sekali. Aku bahkan tak merasakan sesuatu yang aneh. Hanya saja mungkin karena banyak perbedaan, dia terkesan manja.
"Ayok main catur."
"Ga pande lah. Tapi ayoklah, ajari aku tapi yah."
Dengan bengaknya aku susun biji2 catur itu sambil mencontek susunan punya dia. Ternyata aku mengambil catur bagian putih, sama seperti punya dia.
"Loh? Kok punya mu banyak aku sikit? Cemana mainnya?"
"Namanya kamu ambil yang putih juga. Ini kita mau lawan atau team? Kalo team kita lawan siapa?" jawabnya sambil tertawa dan menyimbunyikan kebingungannya dari awal aku main.
Satu satu dia ajari aku langkah bermain catur. Setelah itu ku biarkan dia yang pertama jalan. Lalu dia miris menatapku dan memberi kode.... "Kalau yang Pangeran dah mati, kamu kalah yah." Dan.... Seketika aku buka jalan, Pangeranku mati-_-
Masih simple. Dan aku ga kepikiran.
Kami banyak cerita. Kompak. Ya, sama seperti yang lainnya. Ketika tukang pecel lewat, dia mendatangi...
"Ayo makan, nanti kurusan lagi."
"Ahh masih kurang nih."
"Aku suapin nah?"
"Oo gausahlah, biar ku beli aja. Enakkan telur atau hati?"
"Telur aja."
Aku beli dua, satu lidi aku kasih dia.
"Nanti aku makin sayanglah sama mu", katanya masih dengan muka yang polos. Tanpa menoleh apalagi menjawab, aku hanya mendengus.
Dia polos, tapi berwibawa. Tetap lucu dan manis (re: masih dengan mata sayu dan brewok)
Dia manja, tapi perhatian. Dia apa adanya, dan aku suka.
"Habis ini mau kemana?" tanyanya sambil menunjukkan perutnya yang buncit.
"Ih big pack ya," ejekku sambil, memainkan perutnya. Ku rasa aku getek-_-
Dan tanpa basa basi aku menjawab, "Aku ga ada adek cowoklah."
***
"Iya aku sayang, tapi tidak lebih sebagai adek," jawabku pasti.
***
Lalu aku teringat dan tersadar. Aku sekarang tidak ada bedanya dengan dia yang dulu.
Dan aku termenung, "Aku yang masih biasa saja dengan pria itu sudah ketahuan sayang, bagaimana lagi dia? Dia seseorang yang selalu kedoakan bahkan dibarengi airmata dan walau hanya melihat sekecil dari mulutnya saja aku tahu dia sakit. Lalu, apa mungkin dia tidak sadar?
Aku sudah lama untuk tidak berbagi cerita dan tawa dengan pria yang tepat yang beri kenyamanan. Itu pernah terjadi dan hasilnya tidak bagus. Dan aku sadar bahwa, ternyata aku pernah menyayangi seseorang dengan tulus.
***
"Kalau di gedung ini bisa banyak terima kantoran," ceritanya dulu tepat dijalan yang sekarang aku berhenti, airmata ku mengalir.
Selasa, 17 Juni 2014. JW Marriot, Medan.
Selasa, 17 Juni 2014
Senin, 09 Juni 2014
Biasa namun Tidak Biasa
Aku tidak bisa mengelak untuk menjawab, "Sama kayak aku dulu, dulu aku juga begitu...." dari pertanyaan yang menyangkut soal perasaan.
Bagaimana bisa aku melupakannya dan menghindar darinya, padahal hanya melihat dia saja aku sudah tertawa?
Pertanyaan sederhana yang mungkin setiap orang dapat menjawab, "Yaudah, anggap saja dia seperti orang lain biasa yang juga membuatmu tertawa". That's not as simple as you said.
Sebenarnya, orang yang kita sukai itu sama dengan orang orang lain. Tapi yang buat beda itu perasaan kita ke dia. Kita sudah nyaman dengan dia, merasa bahagia saat ada dia, dan yang paling bikin addicted itu ya, kita sudah terbiasa dengan dia.
Banyak yang lebih dari dia, tapi yang lain itu bukan dia dan sulit kalau bukan dia. Membiasakan diri tanpa dia? Jadi, pada siapa lagi tawa ini lepas? Pada siapa lagi keluh ini bersandar? Pada siapa lagi airmata ini dihapuskan? Pada siapa lagi degup ini berdetak kencang kalau bukan dengan seseorang yang special itu?
Mungkin salah satu caranya adalah, tidak mendewakan alasan "Cinta itu muncul karena terbiasa"
Aku harus mundur perlahan ya? Bagaimana caranya?
Hal yang paling menakutkan dari pertanyaan ini adalah; hari hari tanpanya. Hari hari tanpa pesan singkat disetiap pagi dan malam, hari tanpa cerita lucu sampai sedih, hari tanpa nasehat sampai kekonyolan bersama dia, hari tanpa diingatkan ini itu dari dia. Ya, kehilangan dia; seseorang yang separuh waktumu habis bersamanya. Separuh bahagiamu alasannya adalah dia, namun kini setiap tangismu adalah karena dia? Lalu bagaimana caranya?
....
Aku sedikit sulit menjawab bagian ini. Malam itu, dikeramaian kota dan indahnya lampu malam, tepat dijalan ini aku kembali teringat pada saat dulu. Saat dimana ramainya klakson dan suara orang-orang sekitar yang tidak terdengar lagi karena bahagianya kami berdua. Seakan dulu tak mau terganti, namun inilah aku sekarang; tanpa dirinya, tanpa tawanya, tanpa kekonyolannya.... dan aku masih baik-baik saja.
Solusinya cuma satu, jangan memaksa.
Memaksa segala ingatan itu tetap dikhayalan kita, memaksa dia harusnya dengan kita, bahkan memaksa untuk melupakannya. Biarkan berjalan apa adanya. Iklaskan dia pergi dengan bahagianya sekarang. Dan yang paling membuat tenang adalah, harapkan yang terbaik untuk kedua belah pihak.
Tidak ada yang salah dari sebuah pertemuan. Tidak ada yang salah dari setiap orang yang datang dan pergi dalam hidup ini. Tidak ada yang salah dari setiap tetes airmata kerinduan. Tidak ada yang salah dari setiap harapan. Tidak ada yang salah dari semesta yang mempertemukanmu dengan dia dan memisahkan mu secepat kau tidak menduganya. Yang salah adalah saat kamu tidak membiarkan dia berjalan apa adanya. Let it go.
Tapi aku sayang dia....
:)
Tersenyumlah. Karena senyum adalah sebuah lekukan yang meluruskan setiap masalah.
Tersenyumlah. Karena orang yang kamu sayangi masih bahagia dengan pilihannya.
Tersenyumlah. Karena dia yang kamu sayangi membentukmu menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang ini.
Inspired by my another beloved sista. You are what you think.
"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." -Mazmur 147:3♡
Bagaimana bisa aku melupakannya dan menghindar darinya, padahal hanya melihat dia saja aku sudah tertawa?
Pertanyaan sederhana yang mungkin setiap orang dapat menjawab, "Yaudah, anggap saja dia seperti orang lain biasa yang juga membuatmu tertawa". That's not as simple as you said.
Sebenarnya, orang yang kita sukai itu sama dengan orang orang lain. Tapi yang buat beda itu perasaan kita ke dia. Kita sudah nyaman dengan dia, merasa bahagia saat ada dia, dan yang paling bikin addicted itu ya, kita sudah terbiasa dengan dia.
Banyak yang lebih dari dia, tapi yang lain itu bukan dia dan sulit kalau bukan dia. Membiasakan diri tanpa dia? Jadi, pada siapa lagi tawa ini lepas? Pada siapa lagi keluh ini bersandar? Pada siapa lagi airmata ini dihapuskan? Pada siapa lagi degup ini berdetak kencang kalau bukan dengan seseorang yang special itu?
Mungkin salah satu caranya adalah, tidak mendewakan alasan "Cinta itu muncul karena terbiasa"
Aku harus mundur perlahan ya? Bagaimana caranya?
Hal yang paling menakutkan dari pertanyaan ini adalah; hari hari tanpanya. Hari hari tanpa pesan singkat disetiap pagi dan malam, hari tanpa cerita lucu sampai sedih, hari tanpa nasehat sampai kekonyolan bersama dia, hari tanpa diingatkan ini itu dari dia. Ya, kehilangan dia; seseorang yang separuh waktumu habis bersamanya. Separuh bahagiamu alasannya adalah dia, namun kini setiap tangismu adalah karena dia? Lalu bagaimana caranya?
....
Aku sedikit sulit menjawab bagian ini. Malam itu, dikeramaian kota dan indahnya lampu malam, tepat dijalan ini aku kembali teringat pada saat dulu. Saat dimana ramainya klakson dan suara orang-orang sekitar yang tidak terdengar lagi karena bahagianya kami berdua. Seakan dulu tak mau terganti, namun inilah aku sekarang; tanpa dirinya, tanpa tawanya, tanpa kekonyolannya.... dan aku masih baik-baik saja.
Solusinya cuma satu, jangan memaksa.
Memaksa segala ingatan itu tetap dikhayalan kita, memaksa dia harusnya dengan kita, bahkan memaksa untuk melupakannya. Biarkan berjalan apa adanya. Iklaskan dia pergi dengan bahagianya sekarang. Dan yang paling membuat tenang adalah, harapkan yang terbaik untuk kedua belah pihak.
Tidak ada yang salah dari sebuah pertemuan. Tidak ada yang salah dari setiap orang yang datang dan pergi dalam hidup ini. Tidak ada yang salah dari setiap tetes airmata kerinduan. Tidak ada yang salah dari setiap harapan. Tidak ada yang salah dari semesta yang mempertemukanmu dengan dia dan memisahkan mu secepat kau tidak menduganya. Yang salah adalah saat kamu tidak membiarkan dia berjalan apa adanya. Let it go.
Tapi aku sayang dia....
:)
Tersenyumlah. Karena senyum adalah sebuah lekukan yang meluruskan setiap masalah.
Tersenyumlah. Karena orang yang kamu sayangi masih bahagia dengan pilihannya.
Tersenyumlah. Karena dia yang kamu sayangi membentukmu menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang ini.
Inspired by my another beloved sista. You are what you think.
"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." -Mazmur 147:3♡
Langganan:
Postingan (Atom)