Jumat, 26 Desember 2014

Surat Cinta untuk Sang Hati

Hai... Bagaimana kabarmu, hatiku?


***

Seandainya dari awal aku mendengarkan mu, mungkin aku tidak akan memberikan kamu kepada seseorang yang malah menyayat-nyayat dirimu. Seandainya dari awal aku mendengarkan kamu, kamu akan tetap tenang dialiri darah tanpa harus merasa sesak.

Kau sungguh  hebat, masih mau menemaniku walau dalam pengabaian yang begitu hebat dari ku. Kau mengingatkanku dengan pelan sampai pada kenyataan yang menyedihkan. Namun kau tetap dengan lembut menyapaku dalam doa dan menguatkanku.

Maaf telah membuatmu bertahan terlalu lama dalam penantian. Maaf telah memaksamu menunggu tanpa tahu betapa sakitnya dirimu tanpa kejelasan. Maaf telah memberikanmu pada seseorang yang tak menginginkanmu...

Aku menyerah..

Takkan lagi ku rusak bahagiaku hanya karena rinduku. Takkan ku biarkan kau menunggu terlalu lama. Aku pulang, bahagialah hatiku.

***

Jika kelak ku temukan penggantinya, ku pastikan dia selalu membuatmu bahagia tanpa tanda tanya dan luka, lagi.

Kamis, 07 Agustus 2014

Hujan

Hujanku masih tetap indah, dengan segala kesejukan yang menyelimuti badanku walau kini tak sepatah katapun yang terucap pada sebuah perpisahan.
Hujanku masih tetap indah, walau sudah terdapat cerita yang berbeda.

Hujan dapat memberikan tawa kehangatan namun juga dinginnya hati yang terluka.
Hujan dapat memberikan pelukan hangat, namun dapat juga membiarkan kaki yang melangkah sendiri sembari menutupi air mata.
Hujan dapat memberikan cinta, namum dapat juga menjadikannya sebuah kenangan....

Setiap tetesan hujan terdapat banyak ingatan. Biarlah mengalir hingga mentari memberi senyum baru.

Pergilah, hujanku. Aku terlalu lemah dengan dinginnya berbagai kenangan itu.

Selasa, 29 Juli 2014

Rumah

"Bila kelak kita berada pada rumah yang berbeda, ingatlah aku adalah teman baikmu yang pernah memimpikan rumah yang satu atap bersamamu," -unknown.

Yang terbersik dalam benakku adalah, "Bagaimana rumah idamanmu bersama dia sekarang? Apakah kalian membicarakannya dengan serius atau hanya sekedar saat melewati perumahan dan menjadikannya bahan pembicaraan?" Aku yakin, kau sudah sangat yakin untuk hal itu.

Aku tidak mengharapkan semuanya kembali, hanya saja ingatan itu yang datang lagi menjadi kenangan. Tenanglah, aku bahagia dengan keadaan seperti ini........ Namun kadang ku harap kau kembali dalam hari-hari ku, menemaniku dalam tawa dan sedihku, menanyakan kabarku dan mengkhawatirkanku, menyapaku di pagi hari dan menemaniku dalam malamku..... Atau minimal, Tuhan mengirimkan kepada ku yang seperti mu. Yang mengharapkan tinggal pada atap rumah yang sama yang di dalamnya ada furniture merah dan hitam, punya aquarium, dan halamannya tidak terlalu luas. Like we used to.

Selasa, 17 Juni 2014

"Sayang"

Masih di tempat yang sama dengan keramaian kota yang sama dan lampu jalan yang sama. Pembicaraan sederhana yang melingkupi sebuah cerita

***

Kamu sayang ya sama dia? 

Tanpa langsung menjawab namun dengan sedikit tertawa, aku mencoba mengingat  kembali kejadian demi kejadian. Pertanyaan sederhana muncul, "Kenapa bisa tanya begitu?".... Kelihatan kok, walau hanya dari senyum.

Aku tertawa lepas sekali sembari mengingat-ngingat hal yang barusan kami lakukan sehingga menimbulkan spekulasi dari penonton :D

***

Mungkin aku merindukannya, karena aku sudah lama tak melihatnya. Namun tidak ada bedanya aku dengan orang lain yang mulai merasa bahwa hadirnya sudah jarang. Jadi ku pikir itu biasa. Sedikit pembicaraan singkat kami

"Hei. Cemana tadi?" tanyaku sambil menyentuh sedikit jarinya.
"Ya.. begitulah. Kok makin kurus?" tanyanya sambil menatap ku polos.
"Ah, perasaanmu aja itu."

Simple sekali. Aku bahkan tak merasakan sesuatu yang aneh. Hanya saja mungkin karena banyak perbedaan, dia terkesan manja.

"Ayok main catur."
"Ga pande lah. Tapi ayoklah, ajari aku tapi yah."
Dengan bengaknya aku susun biji2 catur itu sambil mencontek susunan punya dia. Ternyata aku mengambil catur bagian putih, sama seperti punya dia.
"Loh? Kok punya mu banyak aku sikit? Cemana mainnya?"
"Namanya kamu ambil yang putih juga. Ini kita mau lawan atau team? Kalo team kita lawan siapa?" jawabnya sambil tertawa dan menyimbunyikan kebingungannya dari awal aku main.
Satu satu dia ajari aku langkah bermain catur. Setelah itu ku biarkan dia yang pertama jalan. Lalu dia miris menatapku dan memberi kode.... "Kalau yang Pangeran dah mati, kamu kalah yah." Dan.... Seketika aku buka jalan, Pangeranku mati-_-

Masih simple. Dan aku ga kepikiran.

Kami banyak cerita. Kompak. Ya, sama seperti yang lainnya. Ketika tukang pecel lewat, dia mendatangi...

"Ayo makan, nanti kurusan lagi."
"Ahh masih kurang nih."
"Aku suapin nah?"
"Oo gausahlah, biar ku beli aja. Enakkan telur atau hati?"
"Telur aja."
Aku beli dua, satu lidi aku kasih dia.
"Nanti aku makin sayanglah sama mu", katanya masih dengan muka yang polos. Tanpa menoleh apalagi menjawab, aku hanya mendengus.



Dia polos, tapi berwibawa. Tetap lucu dan manis (re: masih dengan mata sayu dan brewok)
Dia manja, tapi perhatian. Dia apa adanya, dan aku suka.


"Habis ini mau kemana?" tanyanya sambil menunjukkan perutnya yang buncit.
"Ih big pack ya," ejekku sambil, memainkan perutnya. Ku rasa aku getek-_-
Dan tanpa basa basi aku menjawab, "Aku ga ada adek cowoklah."

***

"Iya aku sayang, tapi tidak lebih sebagai adek," jawabku pasti.

***

Lalu aku teringat dan tersadar. Aku sekarang tidak ada bedanya dengan dia yang dulu.
Dan aku termenung, "Aku yang masih biasa saja dengan pria itu sudah ketahuan sayang, bagaimana lagi dia? Dia seseorang yang selalu kedoakan bahkan dibarengi airmata dan walau hanya melihat sekecil dari mulutnya saja aku tahu dia sakit. Lalu, apa mungkin dia tidak sadar?



Aku sudah lama untuk tidak berbagi cerita dan tawa dengan pria yang tepat yang beri kenyamanan. Itu pernah terjadi dan hasilnya tidak bagus. Dan aku sadar bahwa, ternyata aku pernah menyayangi seseorang dengan tulus.

***

"Kalau di gedung ini bisa banyak terima kantoran," ceritanya dulu tepat dijalan yang sekarang aku berhenti, airmata ku mengalir.



Selasa, 17 Juni 2014. JW Marriot, Medan.

Senin, 09 Juni 2014

Biasa namun Tidak Biasa

Aku tidak bisa mengelak untuk menjawab, "Sama kayak aku dulu, dulu aku juga begitu...." dari pertanyaan yang menyangkut soal perasaan.

Bagaimana bisa aku melupakannya dan menghindar darinya, padahal hanya melihat dia saja aku sudah tertawa?

Pertanyaan sederhana yang mungkin setiap orang dapat menjawab, "Yaudah, anggap saja dia seperti orang lain biasa yang juga membuatmu tertawa". That's not as simple as you said.

Sebenarnya, orang yang kita sukai itu sama dengan orang orang lain. Tapi yang buat beda itu perasaan kita ke dia. Kita sudah nyaman dengan dia, merasa bahagia saat ada dia, dan yang paling bikin addicted itu ya, kita sudah terbiasa dengan dia.

Banyak yang lebih dari dia, tapi yang lain itu bukan dia dan sulit kalau bukan dia. Membiasakan diri tanpa dia? Jadi, pada siapa lagi tawa ini lepas? Pada siapa lagi keluh ini bersandar? Pada siapa lagi airmata ini dihapuskan? Pada siapa lagi degup ini berdetak kencang kalau bukan dengan seseorang yang special itu?

Mungkin salah satu caranya adalah, tidak mendewakan alasan "Cinta itu muncul karena terbiasa"


Aku harus mundur perlahan ya? Bagaimana caranya?

Hal yang paling menakutkan dari pertanyaan ini adalah; hari hari tanpanya. Hari hari tanpa pesan singkat disetiap pagi dan malam, hari tanpa cerita lucu sampai sedih, hari tanpa nasehat sampai kekonyolan bersama dia, hari tanpa diingatkan ini itu dari dia. Ya, kehilangan dia; seseorang yang separuh waktumu habis bersamanya. Separuh bahagiamu alasannya adalah dia, namun kini setiap tangismu adalah karena dia? Lalu bagaimana caranya?

....

Aku sedikit sulit menjawab bagian ini. Malam itu, dikeramaian kota dan indahnya lampu malam, tepat dijalan ini aku kembali teringat pada saat dulu. Saat dimana ramainya klakson dan suara orang-orang sekitar yang tidak terdengar lagi karena bahagianya kami berdua. Seakan dulu tak mau terganti, namun inilah aku sekarang; tanpa dirinya, tanpa tawanya, tanpa kekonyolannya.... dan aku masih baik-baik saja.

Solusinya cuma satu, jangan memaksa.

Memaksa segala ingatan itu tetap dikhayalan kita, memaksa dia harusnya dengan kita, bahkan memaksa untuk melupakannya. Biarkan berjalan apa adanya. Iklaskan dia pergi dengan bahagianya sekarang. Dan yang paling membuat tenang adalah, harapkan yang terbaik untuk kedua belah pihak.



Tidak ada yang salah dari sebuah pertemuan. Tidak ada yang salah dari setiap orang yang datang dan pergi dalam hidup ini. Tidak ada yang salah dari setiap tetes airmata kerinduan. Tidak ada yang salah dari setiap harapan. Tidak ada yang salah dari semesta yang mempertemukanmu dengan dia dan memisahkan mu secepat kau tidak menduganya. Yang salah adalah saat kamu tidak membiarkan dia berjalan apa adanya. Let it go.

Tapi aku sayang dia....

:)

Tersenyumlah. Karena senyum adalah sebuah lekukan yang meluruskan setiap masalah.
Tersenyumlah. Karena orang yang kamu sayangi masih bahagia dengan pilihannya.
Tersenyumlah. Karena dia yang kamu sayangi membentukmu menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang ini.







Inspired by my another beloved sista. You are what you think.

"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." -Mazmur 147:3♡

Minggu, 13 April 2014

Tak Pantasku

Malam itu ditengah hujan yang rintik-rintik, aku tertawa bersama mereka. Bahagia sekali. Tapi akan lebih lengkap lagi bila ada kamu disana yang walau dengan tampilan paling burukmu. Aku tidak mendengar sedikitpun lawakan yang biasa kamu ucapkan itu, kecuali kalau aku yang mengucapkannya. Seandainya ada keajaiban, pria berkulit sawo matang yang manis dan alis mata hitam tiba-tiba muncul dibalik hujan itu... Apakah mungkin aku bisa mendengar suaranya sebentar saja?

Ingin rasanya ku pulang dan menerpa hujan malam itu, karena aku tersadar bahwa aku salah. Iya, aku salah merindukanmu karena kau bukan milikku, tapi aku benar mencintaimu; dan ini menyakitkan. Ku coba untuk menyangkal segala rindu dan ku pandang pada kenyataan yang ada, tapi yang ada aku semakin merindukanmu walau aku tak pantas.

Ditengah keramaian dan tawa itu aku menyadari bahwa hal yang paling merindukan bukan lagi raganya apalagi kenangan bersamanya, melainkan perasaan yang dulu pernah merindukannya dengan sangat.

***

"Kamu ceria sekali malam ini", katanya lesuh dengan muka paling lelahnya sambil memegang pinggangku dan tertawa lembut. Aku hanya bisa meledeknya dan menarik pelan hidungnya yang mancung. Menatap matanya yang indah dan rambutnya yang ikal adalah kenangan yang paling indah. Saat itu hatiku berdegup kencang karena menyadari bahwa pria yang ku rindukan juga merasakan rindu itu. Dan aku merindukan saat seperti itu....... Bukan ketika aku merindukanmu dan ingin menangis, aku malah harus pura-pura tertawa dan mengatakan, "Sudah tidak lagi, kok."

Jumat, 11 April 2014

Karena Ku Sayang

"Lihat, dia mengenakan ikat rambut warna cokelat. Cantik ya." katanya sambil tersenyum kepada wanita itu. Ada perasaan yang tulus yang terpancar dari sinar matanya. Apakah rasa sayang dia pada wanita itu sebesar rasa sayangku padanya? Atau mungkinkah wanita itu memiliki perasaan yang sama dengannya?

"Sudah bagaimana hubungan kalian?" kataku sambil mencoba mengalihkan pandanganku dengan memainkan bubblecoco pada minumanku.
"Semalam aku mainkan gitar padanya. Dia memintaku untuk menemaninya. Ntahlah, ku kira permainanku jelek sekali sehingga dia hanya bisa tertawa", jawabnya bahagia dan tak menoleh ke arahku sedikitpun. Dia tetap menatap pada wanita yang tertawa sedari itu.
"Benarkah? Coba aku dengar", pintaku. Ya, izinkan aku merasakan cintamu walau itu bukan untuk ku.

***

Petikan gitar yang lembut dengan aliran akustik ditambah dengan suaranya yang berat dan merdu membawaku hanyut pada kenangan dimana kami pernah bernyanyi bersama. Sesekali ku ganggu dia ketika memainkan gitar itu. Ketika lagu mulai terdengar serius, aku melarikan suaraku (atau memang suaraku yang lari? hhihih). Lalu kau meledekku dan memanyungkan bibirmu, saat itu juga ku balas dengan percikan air di pipetku. Kau membalas dan merangkul leherku dengan lenganmu. Kita tertawa, kita bahagia hingga wanita itu muncul di re-path-an temanmu di Path. Aku ingat kau pernah bilang wanita itu manis. "Lihat rambutnya tergerai, cantik. Kamu tuh, doyan banget kuncir rambut." Aku cuma bisa mengejekmu namun ku coba mengingat setiap perkataanmu. "Namanya Jessika", katamu sambil menatap gadget nya dan aku hanya memperhatikan setiap detail wanita itu. Iya, manis. Dengan senyum yang menampakkan tulang pipinya dan mata yang berbinar serta rambut yang gelombang cantik.
"Terus, kalau dia cantik mau kau apakan?" tanyaku seolah menantang pesonanya. Aku salah menanyakannya itu, karena ku temukan dia mulai berjuang untuk wanita itu.

***

Hari demi hari berlalu. Pembicaraan kita tentang pelajaran, orang orang sekitar, bahkan tanaman yang kering mulai berubah tentang wanita itu. Aku muak, tapi aku pura-pura ikut bahagia. Itu ku lakukan hanya demi bisa berada disampingmu, walau hatiku bersedih. Dari pendengaranku, kau mengajaknya makan malam di salah satu kafe yang romantis di kota ini. Aku cemburu. Karena selama ini kau membicarakan kafe itu pada ku, dan kau pernah bilang bahwa kita akan kesana bersama. "Hei. Aku selalu mendengarmu, apa kau tidak memperhatikan rambutku yang ku gerai ini? Aku menambahkan kacamata. Apa aku cukup menarik perhatianmu?" kataku dalam hati yang kemudian lagi lagi mengecewakanku karena kau pamit pergi dan menemui wanita itu.

Adakah sedikitpun kau tatap aku? Adakah kau ingat sedikitpun kenangan kita? Atau, apakah itu hanya dua insan manusia yang sedang memainkan perannya?

Aku terpaksa berbalik arah, karena ku lihat wanita itu memegang jarimu. Padahal dulu jari jari itu sering bermain adu jari dengan jariku. Jarimu awalnya seperti mau mengalah, tapi yang ada jariku malah memerah karena gencatan jarimu. Kuangkat kepalaku, dan lagi lagi ku tarik napasku dalam........ "Aku kuat."

***

"Kau baik-baik saja?" tanya temanku yang keberadaannya hampir tak ku sadari.

"Karena aku sayang kamu, makanya aku melepaskanmu. Karena aku sayang kamu, makanya aku turut bahagia denganmu", jawabku lirih ketika saat itu ku temukan kau menggandeng bahagia wanita itu menuju sepeda motormu dan melupakan aku.

Kamis, 10 April 2014

Jika Kau Memang Tercipta untuk Aku.

Kamis, 23 November 2011. Gelato Bar - Medan.

Hiruk pikuk kota Medan tak mampu mencuri daya sadarku, bahkan lelehan cokelat pada ice cream ku pun tak mampu mencuri perhatianku. Tetesan air mata tak terpendung, saat ku ingat semalam kau ucapkan pisah. Sungguh membingungkan, ternyata sangat mudah mengucapkan "hello" dari pada "goodbye." Di teras rumahku, kau ucapkan kita tak sejalan lagi. Padahal waktu itu kau berjuang mendapatkanku dan hampir dua tahun kita bersama, kita saling bergandengan menjalani kehidupan, kita saling mendoakan disaat beban seolah tak mampu kita junjung. Dalam irama musik kita saling menghibur dengan sendau girau.... Lalu kau bilang kita tak sejalan? Seharusnya 2 minggu lagi genap kita 2 tahun menjalani hubungan ini. Namun kau berhenti berjuang dan melupakan setiap kebersamaan yang ada.

Kurasakan bulir bulir airmata di pipi mulai menggangguku, aku tersadar. Ku tatap layar handphone yang masih menampilkan foto kita bersama dan aku tak menemukan seuntai pesan dari kamu... Dia telah pergi.

Minggu, 7 Juli 2013. Di teras Geraja - Medan.

Dia tepat dihadapanku. Masih sama, masih dengan rambutnya yang tebal dan hitam, mata yang sayu berbingkaikan kacamata, senyum yang lembut, dan jam tangan yang pernah kami gunakan bersama. Senang melihatnya sehat-sehat saja dan bahagia. Dia sapa aku lembut; agak canggung. Dia membelai lembut kepalaku dan berkata ,"Apa kabar? Aroma mu masih seperti yang dulu ya; aroma susu". Konyol. "Mungkin aku begini dengan aroa yang masih sama karena kamu, dengan aroma getekmu itu", ucapku tak mau kalah. Dia tertawa. Matanya hampir hilang bila dia tertawa. Aku bisa melihat brewoknya mengikuti sudut bibirnya; manis sekali. Aku bersyukur pernah memiliki pria sepertinya. Setidaknya, dia adalah pria yang menjadikan aku wanita kuat seperti sekarang ini. Dia berhenti tertawa, menatap jam tangannya seperti biasa sambil memperbaiki kacamatanya, "Kamu apa kabar?" Hatiku berdegup kencang, seperti awal kami berbicara dulu. "Kabarku pernah baik-baik saja, saat kita bersama", jawabku lirih dan tertunduk. Ku lihat sepatu kulit mu bersih mengkilap. Betapa dulu kau sangat lucu terduduk sambil melap sepatu itu. Aku menangis. Ku hapus pelan airmataku dan ku tersenyum. Ku lihat lagi pandangan dari mata mu, hei, kenapa kau sepertinya bersedih? "Tidak, jangan beri ku cinta itu lagi", pikirku dalam hati. "Beginilah kita sekarang. Baik-baik sja bukan?" kataku sambil menepuk bahunya pelan dan tersenyum seakan penuh keyakinan.Dia masih menatapku, seolah dia menangkap keraguan yang ku simpan.

***

"Mau bareng?"
"....Boleh."

Jalanan di daerah Setia Budi yang ramai masih seperti yang dulu, hanya saja mulai jarang pepohonan terlihat. Ku pastikan aku tidak menyentuk sedikitpun raganya, namun jalanan yang padat dan jalan yang bergelombang menghantarkan aku pada raga yang aroma selalu menggodaku. "Kamu makin ringan", katanya sembari memperbaiki kaca spion. Ku berusaha untuk tidak menjawab namun hatiku seperti sedang bersorak-sorai. Ku genggam perlahan pinggangnya dan ku dekatkan kepalaku ke bahunya. Dia masih seperti yang dulu, menceritakan setiap gedung, baliho, bahkan orang yang lewat. Sesekali dia menggodaku seolah dia tidak mengingat rasa sakit yang pernah diciptakannya.


Minggu, 7 Juli 2013 pukul 18.45 WIB. Teras Rumah.

Bagaimana ini? Aku sudah turun dari motornya, tapi tanganku masih memegang lampu depannya seakan aku tak mau kehilangan dia secepat dulu waktu dia ucapkan pisah dan pulang begitu saja.
"Bisakah kau tinggal sebentar saja?"
"Aku disini", balasnya sambil berdiri tegap dihadapan ku dan tersenyum. Aku dapat merasakan hembusan napasnya, aku masih merasakan hangat cinta yang dulu pernah ada, aku masih merasakan degup jantungnya.... dia teramat ku rindukan.....

***

Dia memelukku, erat, seraya merintih, "Maafkan aku."
Ku lepaskan perlahan pelukan itu. Ya, pelukan yang dulu dibarengi dengan tawa dan kecupan lembut di keningku. Ku tatap matanya, ada keyakinan disitu. Ku sentuh perlahan wajahnya dan ku biarkan airmata kun mengalir. Dua tahun berpisah, apa aku masih mencintainya?

"Kau tahu, ditempat ini kau ungkapkan cinta. Di tempat ini juga kau memutuskan segalanya. Sekarang kau ingin ku kembali?" "Ini rumahku, apa kau sanggup melihatku mengingat segala yang pernah terjadi terhadap kita?" tangisku pecah. Namun hatiku menginginkannya.

"Maafkan aku. Kembalilah." Dia memelukku dan terisak. Tuhan, aku mau dia bahagia, bukan menangis seperti ini. Ku coba untuk tak membalas pelukannya, namun yang ku dapatkan dia lemas tersujud.

***

"Kini aku sadar, tawa dan canda kita adalah cara untuk menumbuhkan cinta kita. Marah dan pertikaian yang kerap terjadi adalah cara untuk kita mengenal lebih dekat. Jarak dan waktu adalah cara untuk kita menghargai kesempatan yang pernah ada. Doa dan harapan kita adalah cara untuk kita membangun cinta ini. Dia aku yakin, kita itu adalah aku dan kamu. Maafkan aku. Maafkan aku..." Dia tidak berhenti menangis.

"Apakah kita bisa melanjutkannya kembali? Atau bakalan  ada tangis dan airmata lagi?" tanyaku memegang wajahnya. Padahal dulu, setiap aku lemah dan menangis dia yang menyentuh wajahku dan memberi semangat.

"Aku mau berjuang, jika itu bersama mu."

***

Doakan yang terbaik untuk seseorang yang kamu cintai, walau sakit yang diberikannya. Karena, jika dia memang tercipta untukmu dia akan kembali padamu. Jika dia tidak kembali, maka yang lebih baik akan menjadi jalan kalian berdua.


Sabtu, 9 Januari 2014. Altar Gereja. Medan.

"Aku mengenalmu disini. Saat itu kamu tertawa bahagia sambil memakan cemilanmu. Kamu membuat cerita lucu dengan tingkah yang konyol. Kau menatapku dan mengajakku untuk gabung. Tapi aku gak berani. Setelah lampu belakang Gereja dimatikan, kau sigap untuk menyapu ruangan yang kotor itu. Ku dekati kau dan ku tanya kabarmu. Kau tatap aku dan tersenyum serta menjawab mantab "Aku baik." Kau tak balik bertanya namun ku jawab dalam hati kalau kamu memang orang yang baik yang pantas memasuki relung cintaku. Saat itu kau suruh aku untuk membantu mengambil sedokan. Kita tertawa dan aku jatuh cinta. Kau pulang dan aku semakin gencar untuk mendapatkanmu. Hingga setiap cerita kita lalui, tepat malam itu kau menjadi kekasihku. Namun aku kehilanganmu, dan menemukanmu kembali dengan perasaan yang tidak berubah sedikitpun. Aku mencintaimu Terimakasih," ucapnya dibangku pelaminan sambil mencium tanganku lembut.

Jumat, 04 April 2014

Makanya Aku Mencintainya

"Jangan kemana-mana", katanya lembut seolah khawatir kalau hal yang tidak mengenakkan terjadi pada ku. Sekali lagi, walau hasratku besar namun tanpa berpikir panjang aku menghentikan langkah kaki ini. Dia selalu benar, aku yakin padanya makanya aku mencintainya.

"Yang kayak begini yang aku tidak suka", katanya marah sambil menatap jam tangannya dan memperbaiki kacamatanya. Tapi dia tidak hanya bisa marah, dia tetap tenang. Dia menarik napasnya dalam seolah sedang berpikir, kemudian dia pergi. Dalam langkahnya itu, ada seuntai harapan dari ku agar apa yang hendak dilakukannya baik-baik saja. Dia selalu luarbiasa, aku percaya padanya, makanya aku mencintainya.

"Aku disini", katanya sambil mengusap kepalaku lembut. Seolah takut dan sedihku hilang seketika. Ya, dia sangat manis, makanya aku mencintainya.

Aku mencintainya, makanya dia pergi.

Dia pergi dan tidak bilang apa-apa. Tapi aku masih mencintainya, karena hanya dengan diam tanpa berbicara pun dia tetap dan masih yang terindah yang mampu menghias relung cintaku.

Rabu, 02 April 2014

......

When nothing can explain your feelings, what will you do?

With the sweet sounds of music, i felt that breath again. I won't be back again, but i do.
I don't know what to do. I wanna tell to the world loudly, but my brain told me that people never work as well as you want.... Than, silent is the best choice.

I close my eyes and let the memories flow, i saw you there. You're so cute there, with your little laugh. I have loved you from your eyes. Yes, eyes can't hide the truth, and the truth is i've loved you since i know you better. Yeah... It's good to realize that i was yours. It's good to realize that i have spent my whole life with you. It's good to realize the reason why i smile is you. It's good to remember when it was together till the end. All is good 'till i found myself broke because of you. It's hurting me so much when i realize that someone who repair my heart and build with a new love.... Now, you've been gone and build a new broken-hearted. But even if I cried for you a thousand times, never make me lost.

....Cause i love that guy, even if i'm broken.
....Cause i still remember how to smile when the tears stuck in my eyes
....Cause i can be a stronger, when someone' shoulder is the best thing to rest
....Cause i have showed you the best smile of me when my mouth want to tell you how i miss you.


I tried my best to forget you, but its only build my love bigger than before. Seems like another day, i try to letting you go, 'till now and somehow....

I'm not miss you, i just fill lonely like something missed from me when you go. Take care yourself, and if the time let us meet up again, please, show me the beautiful creatures that i've been loved a lot.


For you,
Mr. Always Right.