Kamis, 05 Desember 2013

Kelak

Sebelumnya ku mau ucapkan maaf karena selama ini memang sudah cukup menyusahkanmu. 

Aku jadi teringat, waktu itu dikeramaian, ternyata kita tidak kalah ramai diantara mereka. Sedikit berlebihan sih memang. Saat malam telah menunjukkan gelap dan dinginnya, lagi lagi suasana kita tidak kalah dinginnya. Dan sekarang, saat suhu badan sedang panas-panasnya, kita juga tidak kalah panas.

Namun satu yang perlu kamu tahu....
Penyakitku itu satu; kamu. Obatnya juga satu; kamu.
Kamu tahu kenapa?
Saat tak melihatmu, ada rindu yang menyerang. Dia menyerang hati dan pikiranku. Tak jarang menggaggu aktifitasku, namun ku tak berdaya. Kadang malah membuat penyakit dariku. Begitu melihatmu, ada rindu yang terobati; tapi tak sesuai harapan. Karena aku sadar, kamu bukan orang yg layak untuk ku rindukan. Emang kamu siapanya aku? Sakit lagi. Tapi satu, aku ga mau saat saat itu berlalu dengan cepat, karena ku ingin menatapmu, dengan segenap tawa mu, yaa... Mungkin tawa saat kamu menatap layar handphone mu; bahagia dengan yang lain gitu.

Tapi kadang penyakitku akut, jadi agak berlebihan yang menyebabkan rasa manja. Kamu tidak suka ya? Maaf. Ku hanya ingin memuaskan rinduku. Tapi sepertinya kamu tidak mau ya? Iya, aku kan tak berarti untuk mu. hhehe.

Ku harap kamu tidak marah. Ku harap kamu tetap sabar ya. Karena rindu tak terungkapkan itu dapat mengakibatkan salah penafsiran. Jadi, apapun yang kamu pikir tentang aku, semoga tidak jadi alasan utama munculnya jarak antara kita.

Aku mau bilang, saat itu aku tidak benar-benar menangis. Aku hanyak ingin melihatmu tidur nyenyak malamnya dan paginya kamu bangun dan ngigau, ku rasa itu lucu. Saat tengah malam itu ku juga tidak benar-benar memaksa malam itu terus berlanjut. Aku hanya ingin melihatmu dengan gagahnya tampil diantara orang jahat itu. Tapi percayalah, walau ku tak bisa melihatnya, kamu tetap gagah di mataku, walau hanya sekedar dari tampilanmu saat lelah, misalnya. Dan saat itu, aku tidak benar-benar ingin meramaikan suasana, yang ku mau hanya mengobati rindu yang sepertinya akan berhenti sampai saat itu. Namun gagal. Sepertinya ku akan merindukan mu lagi :p

Kamu jangan marah ya. Kamu diam saja sudah cukup membuatku sedih. Maaf. Aku memang cukup rewel untuk merusak mood mu. Aku cukup kekanak-kanakan, ya, sehingga mampu jadi alasan kuat kita tidak bersama. Tapi yah, saat begitu akunya butuh kamu; ngajari aku. Ngajari aku tuk jadi seperti yang kamu minta dan inginkan.

Percayalah....

Suatu saat nanti, kamu bakalan nemu pasanganmu yang tidak meribetkanmu. Kamu mau ini dia nurut, dan sebaliknya; manis sekali yah. Suatu saat nanti, tidak ada aku lagi yang mengganggumu, membuatmu khawatir, dan marah. Suatu saat nanti tidak ada aku lagi yang bodoh dalam mengungkapkan rindu hingga memunculkan percekcokan. Suatu saat nanti, tidak ada aku lagi yang mengharapkan kamu selalu hadir.

Tapi percayalah, suatu saat nanti, masih ada aku yang mendoakanmu agar kamu tetap menjadi pria yang sabar, yang lembut, dan yang perhatian.

Terimakasih untuk tetap hadir dan sabar. Maaf telah merepotkanmu.

Pergilah saat kamu mulai tidak betah dengan sifat ku. Siapa tahu aku bisa belajar untuk bisa  kuat tanpa mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar