Selasa, 30 Juli 2013

Sekedar harapku

"Tenanglah, aku disini..."

Sebuah doa telah aku panjatkan berkali-kali dengan Tuhanku; tentang kamu. Tetesan air mata turut serta menghiasinya, degupan jantung yang menyesakkan jiwa turut meramaikan suasana. Sebegitu hebatkahnya cinta yang kau tanamkan?

Doa ku sederhana; jika kau memang jalanku, ku akan memilikimu. Jika tidak, aku akan pergi. Mengubur kenangan walau hubungan ini tak berstatus.

Dengarlah, aku cukup nyaman dan bahagia ketika kau didepanku sambil mengendarai motor bercerita ringan atau mungkin sedikit serius menjerumus ke nasihat; di bawah terik matahari, dengan macetnya jalanan, atau mungkin dimalam hari ditemani oleh lampu jalan dan dinginnya angin malam; hey. Waktu hujan kemarin aku menyarungi kepalamu, dan aku yakin wajahmu sangat lucu. Diwaktu yang berbeda, kira-kira jam 9 malam hujan rintik-rintik, aku ingat, lembut sekali kamu usap kepalaku

Aku cukup bahagia memeluk tas mu yang terkadang aroma debu dan matahari, sambil bersender dibalik jok kursi di mobilmu, mencium aroma badanmu dengan parfurm biru khas mu, sedikit terganggu dengan asap rokokmu namun diteduhkan kembali sama suara manjamu, dengan bibir sedikit dimayunkan dan tatapan matamu yang seolah meminta dikasihani karena parasnya yang sayu.

Aku cukup bahagia turut serta dalam pertandingan sepakbola mu. Menjaga barang-barangmu, melipat pakaian bersihmu, keciprat keringatmu, dan duduk dibelakangmu dengan bahagia karena kamulah satu-satunya pria berkeringat yang tetap wangi. 

Aku cukup bahagia disaat angin malam yang mengganggu kesehatanku dan sinusitisku, kamu berkata "angin malamnya ini emang ga bagus, penyakit semua disini." Karena kondisiku kamu juga sering marah menyuruhku untuk cepat pulang.
Aku cukup bahagia melihatmu membantu memanasi cokelat batangan dia dalam panci berisi air, kemudian wajahmu panik waktu melihat airnya mendidih. Melihatku sedang memasak walau kau mengejek lemak ditanganku yang seolah bergoyang bahagia kemudia tamparan yang sedikit pedas pun melayang ke pipimu; maaf :D Ohiya, jam 2 pagi, saat semua masih berkumpul di rumahku dan akhirnya kue-kue kita selesai dimasak, kamu santai ngomong "Ada busa ditanganmu".

Aku cukup bahagia saat didalam perjalanan mencari toko kue, kamu menyuruh aku ikut melihat tokonya dan aku malah sibuk sendiri karena aku bilang tokonya udah lewat padahal tokonya tepat di depan kita, lalu kau mengatakan bahwa mata aku sayu. Sehabis ujian itu juga, kau baru keluar dari parkiran dan melihatku, sontak kamu berkata "pake celak diatas bawah kelopak matamu ya?"

Aku cukup bahagia saat aku lelah berolahraga kemudian kamu bilang supaya tidak terlalu memaksakan diri yang penting sehat, ehh kemarin sehabis melihat pesta pernikahan teman kita, besoknya kamu bnyuruh aku diet, biar muat baju pengantin ;p Hei, aku sekarang lagi musuhan sama nasi, loh :D

Aku cukup bahagia waktu buka twitter dan ngelihat kamu lagi retweet-an bareng temanmu, awalnya ejek-ejekan jomblo, terus kamu bilang kalau kamu hampir punya pacar; temanmu enteng ngebalas ketengikanmu dengan cara nyuruh kamu gereja karena nawaitu bukan karena 'adektu'

Aku cukup bahagia di ruang karoke duduk disampingmu, menganggumu bernyanyi dengan serius kemudia kau menjepitkan tanganku diantara pahamu, sedikit menoyor kepalaku lembut kemudian mayun.

Aku cukup bahagia di tempat tidur sambil membaca pesanmu, biasanya kamu lagi nemani mamamu mencari bahan sekolahnya atau mungkin dalam mengerjakan tesisnya; tapi biasanya aku ketiduran. Pernah suatu malam dalam bosanku, aku meminta dan kau memberikan, lagu yang isinya tentang walau perutmu buncit kau tetap terseksi? Percayalah, lemakmu begitu aku rindukan. Bicara soal cita-cita juga segudang pertanyaanku, atau bahkan menemani ku nonton film horror tengah malam yang memaksamu untuk tetap terjaga menemaniku walau hanya dari pesan singkat.

Aku cukup bahagia saat kau memberitahuku apa yang sedang kau kerjakan, menyuruhku tidur siang, dan mengingatkanku untuk semangat belajar. Saat aku asyik dengan temanku kemudian kau mengatakan "aku sombong" sembari menanyakan aku kemana saja; membuatku bahagia. Harapanku sederhana, jangan berubah. Tetaplah tanam rasa bahwa kau butuh aku.

Aku cukup bahagia saat aku terlarut dalam kesedihan dan kamu seolah mengerti dan mencoba untuk masuk kedalamnya. Bahkan airmataku kerap kali tak terbendung dan aku menghidarinya darimu; kamu marah, kamu bilang aku terus-terus menghindar dari kamu.

Aku cukup bahagia dengan hal-hal sederhana hingga luarbiasa yang pernah kita lalu. Enam bulan sudah tanpa kejelasan namun aku tidak menggebu-gebu. Aku tak mengerti apa yang terkadang mengangguku. Kurasa hatiku telah letih menunggumu, mengharapkan kepastianmu.

Salahkah disini aku berfikir bahwa apa yang telah kau berikan padaku atau yang telah kita jalani bersama adalah saksi bisu rasa cintamu?

Kau tahu? Disaat aku bertekad untuk melakukan semuanya tanpamu, kau selalu hadir. Seakan berusaha melarang aku untuk berhenti memperjuangkanmu.
Bila aku berhenti sampai disini, berarti aku harus rela bahwa perjuanganku sia-sia. Bila aku harus memperjuangkanmu dan kamu tak memilihku, aku akan terluka dan mungkin akan hancur disini aku harus rela melihatmu bahagia walau bukan denganku.
Bila pada kenyataannya kita tercipta bersama hanya demi status "abang-adek" bantu aku untuk menghapus rasa sayangku, hadirlah selalu dalam setiap tetes airmataku, dan tetap doakan aku; sebagai adekmu.

Maaf bila aku salah menilaimu :')
Maaf bila aku terlalu mementingkan kodrat sebagai wanita yang melulu menggunakan perasaannya dan melupakan kamu sebagai pria yang menggunakan logikamu.
Terimakasih.


"Tak pernah sedikitpun aku bayangkan,
Betapa hebatnya cinta yang kau tanamkan
Hingga waktu beranjak pergi, kau mampu hancurkan hatiku"  -Ipank, Ada yang Hilang


"Cause i don't wanna lose you now
I'm looking right at the other half of me" -Justin,Mirror

Tidak ada komentar:

Posting Komentar