Selasa, 17 Juni 2014

"Sayang"

Masih di tempat yang sama dengan keramaian kota yang sama dan lampu jalan yang sama. Pembicaraan sederhana yang melingkupi sebuah cerita

***

Kamu sayang ya sama dia? 

Tanpa langsung menjawab namun dengan sedikit tertawa, aku mencoba mengingat  kembali kejadian demi kejadian. Pertanyaan sederhana muncul, "Kenapa bisa tanya begitu?".... Kelihatan kok, walau hanya dari senyum.

Aku tertawa lepas sekali sembari mengingat-ngingat hal yang barusan kami lakukan sehingga menimbulkan spekulasi dari penonton :D

***

Mungkin aku merindukannya, karena aku sudah lama tak melihatnya. Namun tidak ada bedanya aku dengan orang lain yang mulai merasa bahwa hadirnya sudah jarang. Jadi ku pikir itu biasa. Sedikit pembicaraan singkat kami

"Hei. Cemana tadi?" tanyaku sambil menyentuh sedikit jarinya.
"Ya.. begitulah. Kok makin kurus?" tanyanya sambil menatap ku polos.
"Ah, perasaanmu aja itu."

Simple sekali. Aku bahkan tak merasakan sesuatu yang aneh. Hanya saja mungkin karena banyak perbedaan, dia terkesan manja.

"Ayok main catur."
"Ga pande lah. Tapi ayoklah, ajari aku tapi yah."
Dengan bengaknya aku susun biji2 catur itu sambil mencontek susunan punya dia. Ternyata aku mengambil catur bagian putih, sama seperti punya dia.
"Loh? Kok punya mu banyak aku sikit? Cemana mainnya?"
"Namanya kamu ambil yang putih juga. Ini kita mau lawan atau team? Kalo team kita lawan siapa?" jawabnya sambil tertawa dan menyimbunyikan kebingungannya dari awal aku main.
Satu satu dia ajari aku langkah bermain catur. Setelah itu ku biarkan dia yang pertama jalan. Lalu dia miris menatapku dan memberi kode.... "Kalau yang Pangeran dah mati, kamu kalah yah." Dan.... Seketika aku buka jalan, Pangeranku mati-_-

Masih simple. Dan aku ga kepikiran.

Kami banyak cerita. Kompak. Ya, sama seperti yang lainnya. Ketika tukang pecel lewat, dia mendatangi...

"Ayo makan, nanti kurusan lagi."
"Ahh masih kurang nih."
"Aku suapin nah?"
"Oo gausahlah, biar ku beli aja. Enakkan telur atau hati?"
"Telur aja."
Aku beli dua, satu lidi aku kasih dia.
"Nanti aku makin sayanglah sama mu", katanya masih dengan muka yang polos. Tanpa menoleh apalagi menjawab, aku hanya mendengus.



Dia polos, tapi berwibawa. Tetap lucu dan manis (re: masih dengan mata sayu dan brewok)
Dia manja, tapi perhatian. Dia apa adanya, dan aku suka.


"Habis ini mau kemana?" tanyanya sambil menunjukkan perutnya yang buncit.
"Ih big pack ya," ejekku sambil, memainkan perutnya. Ku rasa aku getek-_-
Dan tanpa basa basi aku menjawab, "Aku ga ada adek cowoklah."

***

"Iya aku sayang, tapi tidak lebih sebagai adek," jawabku pasti.

***

Lalu aku teringat dan tersadar. Aku sekarang tidak ada bedanya dengan dia yang dulu.
Dan aku termenung, "Aku yang masih biasa saja dengan pria itu sudah ketahuan sayang, bagaimana lagi dia? Dia seseorang yang selalu kedoakan bahkan dibarengi airmata dan walau hanya melihat sekecil dari mulutnya saja aku tahu dia sakit. Lalu, apa mungkin dia tidak sadar?



Aku sudah lama untuk tidak berbagi cerita dan tawa dengan pria yang tepat yang beri kenyamanan. Itu pernah terjadi dan hasilnya tidak bagus. Dan aku sadar bahwa, ternyata aku pernah menyayangi seseorang dengan tulus.

***

"Kalau di gedung ini bisa banyak terima kantoran," ceritanya dulu tepat dijalan yang sekarang aku berhenti, airmata ku mengalir.



Selasa, 17 Juni 2014. JW Marriot, Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar