Hai... Bagaimana kabarmu, hatiku?
***
Seandainya dari awal aku mendengarkan mu, mungkin aku tidak akan memberikan kamu kepada seseorang yang malah menyayat-nyayat dirimu. Seandainya dari awal aku mendengarkan kamu, kamu akan tetap tenang dialiri darah tanpa harus merasa sesak.
Kau sungguh hebat, masih mau menemaniku walau dalam pengabaian yang begitu hebat dari ku. Kau mengingatkanku dengan pelan sampai pada kenyataan yang menyedihkan. Namun kau tetap dengan lembut menyapaku dalam doa dan menguatkanku.
Maaf telah membuatmu bertahan terlalu lama dalam penantian. Maaf telah memaksamu menunggu tanpa tahu betapa sakitnya dirimu tanpa kejelasan. Maaf telah memberikanmu pada seseorang yang tak menginginkanmu...
Aku menyerah..
Takkan lagi ku rusak bahagiaku hanya karena rinduku. Takkan ku biarkan kau menunggu terlalu lama. Aku pulang, bahagialah hatiku.
***
Jika kelak ku temukan penggantinya, ku pastikan dia selalu membuatmu bahagia tanpa tanda tanya dan luka, lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar