Selamat malam, kamu. Sudah cukup larut malam ini, waktu menunjukkan pukul 22:22. Letih pasti mengerumuni sekujur tubuh ini. Lantunan lagu menemani ku di ruang petak kecil ini, bersama bayanganmu dan saat bersamamu tentunya. Tersadar ku kali ini aku hanya menatap nanar kearah jendela, sepi....penuh tanda tanya...dan bayangan yang seolah menghujam dadaku hingga sesak yang kurasa. Aku tersadar, betapa dulu malamku terbalutkan senyum penuh syukur. Hei, kita sudah berakhir ternyata.
Apabila kamu tidak mau ku masukkan dalam tulisanku, aku hanya ingin lontarkan maaf. Namun baiknya kamu sadar, betapa cerita yang tertulis entah mengapa menjadi sebuah kenangan yang patut untuk dikenang; secepat itu.
Seandainya canda dan ceritamu tidak seindah dulu, ku yakin itu tidak akan menjadi candu bagiku. Seandainya perasaan nyaman tak menyelimuti kita berdua, ku yakin malam ku tidak rapuh karena rindu yang tak terucap. Seandainya rasa tak ada dan muncul begitu hebatnya, ku yakin aku akan tegar melihat mu dengannya.
Kita mungkin sudah salah dari awal. Membiarkan semesta menyatukan kita hingga enggan untuk tak berjumpa. Kita sudah salah dari awal, karena membiarkan pagi dan malam menjadi manja akan ucapan semangat dan untaian doa. Kita sudah salah dari awal, karena membiarkan kesempatan menjadi kebiasaan. Kita sudah salah dari awal, karena mempergunakan waktu bersama. Kita yang salah atau aku saja yang salah karena aku terlalu memikirkannya?
Lalu, apa sekarang? sudah? baiklah....
Intinya begini, kamu, apapun yang kamu lakukan disana ku harap semua yang terbaik. Dan selalu yang terbaik harapku untukmu. Apapun pilihanmu, ku yakinkan kebijakanmu. Apapun bahagiamu, ku doakan menjadi keabadianmu.
Sayang, tak ada penyesalan di batin ini, tak ada kekecewaan. Kamu tahu mengapa? Karena kamu pilihanku, suka duka kelak yang ku dapat, ku pastikan itu yang terbaik, karena memang kamu yang terbaik. Sayang, hatiku sanggup disini bukan karena tegarku, tapi karena betapa banyaknya pelajaran berharga darimu yang menopangku erat.
Tapi terkadang aku sangat merindukanmu. Bila disana kamu merasakannya, tolong jangan hampiriku. Kamu hanya perlu memelukku dalam doa, mungkin tak rupamu; karena aku bisa lupa kalau aku sedang berusaha untuk melupakanmu. Bila mungkin hem...disana kamu tak merasakan rindu seperti ku, aku bisa apa? :')
Hei,
Kamu terlalu indah untuk sebuah luka. Kamu terlalu sempurna untuk ukiran yang menyayat hati ini. Kamu terlalu berharga untuk tetesan airmata yang terbuang sia-sia.
Terimakasih untuk kesempatan bersama yang menyelimuti bahagiaku, terimakasih untuk perpisahan yang mengajarku untuk tegar. Terimakasih telah hadir, karena mampu memberiku bahagia, suka, duka, rindu yang seimbang.
Ingat ya, jangan kembali lagi ya. Jangan tulis cerita baru lagi. Karena kurasa aku butuh buku dengan lembaran baru yang mampu menuliskan cerita bahagiaku yang abadi.
I love you... goodbye. I'm glad to know you. Thank God and thanks you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar