Rabu, 13 November 2013

Aku Menunggumu

Kembali ku tatap layar handphone ku, lagi lagi aku harus menarik napasku dalam untuk menguatkan diriku tuk melihat notif dari mu sejak saat itu tak pernah ku terima lagi. Ku buka daftar recent update ku untuk mengechek siapa tahu kamu ada update, lumayan, sedikit info dari kamu yang bisa ku terima...tapi nyatanya juga tidak ada. Oh Tuhan, apa kabar kamu disana?

Sekedar ku chek chat history kita, ternyata masih sanggup membuatku cekikikan. Lalu tanpa sadar ku lupakan pesan masuk dari dia, iya, dia, penggantimu. Ku pejamkan mataku, ku tarik napasku, dan hei, ada bulir kecil keluar dari mataku. Ku hapus dia dan kembali ku kuatkan diriku. Iseng ku melihat memoryku, ternyata lagi lagi ada kamu beserta kenangan kita, hasil chat capture-an tidak mau kalah tuk menuntunmu kembali dalam ingatan. Manis sekali saat dulu. Tak pernah ku sangka, hal semanis ini dapat ku lalui bersamamu, orang yang tak pernah kubayangkan sedikitpun dulu.

"Tuhan, tak dapatkah Engkau kembalikan dia untuku lagi?" pintaku dalam hati ketika melihat foto itu, saat kau tertawa lepas dibalik punggungku dan merangkul leherku lucu, alis matamu yang tebal dengan kacamata dan behelmu membuat kamu terlihat sempurna tuk jadi masa lalu ku. Terbentang lebar ingatan dulu saat foto itu akan dibidik, di taman cinta biasa kita sebut, sambil melihat anak-anak tertawa riang sambil kita berkomitmen lucu. "Nanti anak kita gak kalah lucunya dari mereka", katamu sambil kembali menggelitiki ku. Begoknya, seharusnya kita sadar 2tahun bersama itu belum menjadi patokan kalau kita berjodoh ya.

Tawa ku kembali memancarkan sosok yang seolah kuat, saat melihat foto kau merangkulku dengan pancaran tak ingin kehilanganku, di depan hiasan bunga pesta pernikahan teman kita. Dulu ada banyak doa dan harapan teman-teman saat kita foto disitu. "Semoga cepat menyusul ya", kata mereka yang hanya bisa membuatku terdiam untuk mengaminkan, menatap ke arah mu dan melihat pancaran tulus dari matamu sembari mengusap kepalaku. Oh Tuhan, betapa indah dia Kau berikan padaku.

Di bangku ini, ku melihatmu disana, tertawa indah dengan yang lain lalu melihat ke arahku dan tersenyum. Sungguh, ku tak ingin kehilangan senyum itu. Di depan ini aku melihatmu sedang memimpin pembicaraan, hati ini berdegup saat ku rasa sepertinya amarahmu muncul, namun kau menatapku seolah kau butuhkan aku disampingmu. Hanya senyum yang bisa ku beri, karena kurasa doaku telah menguatkanmu, ya, kamu nampak lagi tarik nafas dan aku lega bahwa amarahmu telah berlalu. Ku tundukkan kepala ku dan lagi-lagi ku panjatkan doaku, aku tak mau kehilangan degup jantung ini Tuhan, yaa degup jantung bahagia yang berdetag sesuai detag jantungnya.

Ya, semesta telah memisahkan kita. Memisahkan kita dengan mudahnya dengan alasan ketidak cocokan. Setelah suka duga kita lalui dengan seimbang namun tetap harus berpisah. Jodoh memang tidak ada yang tahu.

Tapi disini masih ada keyakinan ku padamu, masih ada harapku untukmu. Ini bukan salah aku atau kamu makanya kita berpisah, ini hanya ujian untuk keabadian kita bersama. Semoga disana kamu masih setia mendoakanku ya, masih menopang kuat fondasi cinta kita.

Aku masih menunggumu disini, dibalik telepon sambil bercerita cerita seru kita seharian, di teras rumahku bermanja-manja ria,  di ruang petak ini sembari melantunkan lagu indah yang kita bikin ruwet karena permainan piano kita yang abstrak, di Gereja sambil berdoa untuk hubungan kita kelak. Aku masih menunggumu.




Jika kau lelah dalam pencarianmu, ingatlah aku disini. Sosok yang dulu kau perjuangkan dan tak ingin kau lepaskan.
Jika kau dibuat susah karena pekerjaanmu, ingatlah aku disini. Sosok yang bisa membuatmu tertawa dan mengusap kepalamu ringan.
Jika kau inginkan bahu untuk bertopang, ingatlah aku disini, tempatmu yang kau percayakan untuk susah dan sedihmu.
Jika kau rindukan aku, aku kan selalu ada untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar