Senin, 18 November 2013

Pria di Balik Panggung

Ku pandangi butiran keringat di kepalamu, mata mu yang redup seakan ingin terlelap, keringat di baju mu, bibirmu yang kau gigit pelan saat mengangkat barang yang berat itu.... Kau begitu sempurna.

Sesekali ku dengar tawa mu yang bahagia seolah kamu tidak masalah dengan apa yang sedang kamu kerjakan saat itu. Candaanmu juga masih bisa ku dengar manis. Dan hingga ragamu mulai letih, ku lihat kamu terduduk pasrah di tangga panggung itu, melap keringat yang mengerumuni muka dan sekujur tubuhmu, menghela napas panjang, dan menegak air minumanmu. Batin ku bergejolak, "Indahnya yang akan menjadi kekasih mu kelak".

Tak akan hentinya aku memujamu, mengagumi mu dari sesi letihmu, dari sisi kucel mu, dan dari sisi hela napas tanda capekmu. Betapa punggumu yang terasa berat ingin ku usap lembut sembari membisikan cerita seru dan melap keringat di leher belakangmu. Betapa rambutmu yang basah ingin ku kucek-kucek sambil tertawa cekikikan dengan mu, serta kacamata mu yang mulai mengkusam ingin ku bersihkan. Iya. Betapa aku mencintaimu mulai dari kekuranganmu hingga lebih mu.

Dari semua khayalan dan harapanku, ternyata aku hanya bisa memilih untuk menundukkan kepala dan menghela napas panjang, menutup mata dan mendoakan kamu agar diberi semangat dan kesehatan. Kembali membuka mata dan membangkitkan kepala, tersenyum simpul dan pergi dari tempat persembunyianku; iya, persembunyianku untuk menatapmu dalam diam.



 Dari aku,
Pemuja rahasia mu yang berharap lebih dari sekedar diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar