Kamis, 10 April 2014

Jika Kau Memang Tercipta untuk Aku.

Kamis, 23 November 2011. Gelato Bar - Medan.

Hiruk pikuk kota Medan tak mampu mencuri daya sadarku, bahkan lelehan cokelat pada ice cream ku pun tak mampu mencuri perhatianku. Tetesan air mata tak terpendung, saat ku ingat semalam kau ucapkan pisah. Sungguh membingungkan, ternyata sangat mudah mengucapkan "hello" dari pada "goodbye." Di teras rumahku, kau ucapkan kita tak sejalan lagi. Padahal waktu itu kau berjuang mendapatkanku dan hampir dua tahun kita bersama, kita saling bergandengan menjalani kehidupan, kita saling mendoakan disaat beban seolah tak mampu kita junjung. Dalam irama musik kita saling menghibur dengan sendau girau.... Lalu kau bilang kita tak sejalan? Seharusnya 2 minggu lagi genap kita 2 tahun menjalani hubungan ini. Namun kau berhenti berjuang dan melupakan setiap kebersamaan yang ada.

Kurasakan bulir bulir airmata di pipi mulai menggangguku, aku tersadar. Ku tatap layar handphone yang masih menampilkan foto kita bersama dan aku tak menemukan seuntai pesan dari kamu... Dia telah pergi.

Minggu, 7 Juli 2013. Di teras Geraja - Medan.

Dia tepat dihadapanku. Masih sama, masih dengan rambutnya yang tebal dan hitam, mata yang sayu berbingkaikan kacamata, senyum yang lembut, dan jam tangan yang pernah kami gunakan bersama. Senang melihatnya sehat-sehat saja dan bahagia. Dia sapa aku lembut; agak canggung. Dia membelai lembut kepalaku dan berkata ,"Apa kabar? Aroma mu masih seperti yang dulu ya; aroma susu". Konyol. "Mungkin aku begini dengan aroa yang masih sama karena kamu, dengan aroma getekmu itu", ucapku tak mau kalah. Dia tertawa. Matanya hampir hilang bila dia tertawa. Aku bisa melihat brewoknya mengikuti sudut bibirnya; manis sekali. Aku bersyukur pernah memiliki pria sepertinya. Setidaknya, dia adalah pria yang menjadikan aku wanita kuat seperti sekarang ini. Dia berhenti tertawa, menatap jam tangannya seperti biasa sambil memperbaiki kacamatanya, "Kamu apa kabar?" Hatiku berdegup kencang, seperti awal kami berbicara dulu. "Kabarku pernah baik-baik saja, saat kita bersama", jawabku lirih dan tertunduk. Ku lihat sepatu kulit mu bersih mengkilap. Betapa dulu kau sangat lucu terduduk sambil melap sepatu itu. Aku menangis. Ku hapus pelan airmataku dan ku tersenyum. Ku lihat lagi pandangan dari mata mu, hei, kenapa kau sepertinya bersedih? "Tidak, jangan beri ku cinta itu lagi", pikirku dalam hati. "Beginilah kita sekarang. Baik-baik sja bukan?" kataku sambil menepuk bahunya pelan dan tersenyum seakan penuh keyakinan.Dia masih menatapku, seolah dia menangkap keraguan yang ku simpan.

***

"Mau bareng?"
"....Boleh."

Jalanan di daerah Setia Budi yang ramai masih seperti yang dulu, hanya saja mulai jarang pepohonan terlihat. Ku pastikan aku tidak menyentuk sedikitpun raganya, namun jalanan yang padat dan jalan yang bergelombang menghantarkan aku pada raga yang aroma selalu menggodaku. "Kamu makin ringan", katanya sembari memperbaiki kaca spion. Ku berusaha untuk tidak menjawab namun hatiku seperti sedang bersorak-sorai. Ku genggam perlahan pinggangnya dan ku dekatkan kepalaku ke bahunya. Dia masih seperti yang dulu, menceritakan setiap gedung, baliho, bahkan orang yang lewat. Sesekali dia menggodaku seolah dia tidak mengingat rasa sakit yang pernah diciptakannya.


Minggu, 7 Juli 2013 pukul 18.45 WIB. Teras Rumah.

Bagaimana ini? Aku sudah turun dari motornya, tapi tanganku masih memegang lampu depannya seakan aku tak mau kehilangan dia secepat dulu waktu dia ucapkan pisah dan pulang begitu saja.
"Bisakah kau tinggal sebentar saja?"
"Aku disini", balasnya sambil berdiri tegap dihadapan ku dan tersenyum. Aku dapat merasakan hembusan napasnya, aku masih merasakan hangat cinta yang dulu pernah ada, aku masih merasakan degup jantungnya.... dia teramat ku rindukan.....

***

Dia memelukku, erat, seraya merintih, "Maafkan aku."
Ku lepaskan perlahan pelukan itu. Ya, pelukan yang dulu dibarengi dengan tawa dan kecupan lembut di keningku. Ku tatap matanya, ada keyakinan disitu. Ku sentuh perlahan wajahnya dan ku biarkan airmata kun mengalir. Dua tahun berpisah, apa aku masih mencintainya?

"Kau tahu, ditempat ini kau ungkapkan cinta. Di tempat ini juga kau memutuskan segalanya. Sekarang kau ingin ku kembali?" "Ini rumahku, apa kau sanggup melihatku mengingat segala yang pernah terjadi terhadap kita?" tangisku pecah. Namun hatiku menginginkannya.

"Maafkan aku. Kembalilah." Dia memelukku dan terisak. Tuhan, aku mau dia bahagia, bukan menangis seperti ini. Ku coba untuk tak membalas pelukannya, namun yang ku dapatkan dia lemas tersujud.

***

"Kini aku sadar, tawa dan canda kita adalah cara untuk menumbuhkan cinta kita. Marah dan pertikaian yang kerap terjadi adalah cara untuk kita mengenal lebih dekat. Jarak dan waktu adalah cara untuk kita menghargai kesempatan yang pernah ada. Doa dan harapan kita adalah cara untuk kita membangun cinta ini. Dia aku yakin, kita itu adalah aku dan kamu. Maafkan aku. Maafkan aku..." Dia tidak berhenti menangis.

"Apakah kita bisa melanjutkannya kembali? Atau bakalan  ada tangis dan airmata lagi?" tanyaku memegang wajahnya. Padahal dulu, setiap aku lemah dan menangis dia yang menyentuh wajahku dan memberi semangat.

"Aku mau berjuang, jika itu bersama mu."

***

Doakan yang terbaik untuk seseorang yang kamu cintai, walau sakit yang diberikannya. Karena, jika dia memang tercipta untukmu dia akan kembali padamu. Jika dia tidak kembali, maka yang lebih baik akan menjadi jalan kalian berdua.


Sabtu, 9 Januari 2014. Altar Gereja. Medan.

"Aku mengenalmu disini. Saat itu kamu tertawa bahagia sambil memakan cemilanmu. Kamu membuat cerita lucu dengan tingkah yang konyol. Kau menatapku dan mengajakku untuk gabung. Tapi aku gak berani. Setelah lampu belakang Gereja dimatikan, kau sigap untuk menyapu ruangan yang kotor itu. Ku dekati kau dan ku tanya kabarmu. Kau tatap aku dan tersenyum serta menjawab mantab "Aku baik." Kau tak balik bertanya namun ku jawab dalam hati kalau kamu memang orang yang baik yang pantas memasuki relung cintaku. Saat itu kau suruh aku untuk membantu mengambil sedokan. Kita tertawa dan aku jatuh cinta. Kau pulang dan aku semakin gencar untuk mendapatkanmu. Hingga setiap cerita kita lalui, tepat malam itu kau menjadi kekasihku. Namun aku kehilanganmu, dan menemukanmu kembali dengan perasaan yang tidak berubah sedikitpun. Aku mencintaimu Terimakasih," ucapnya dibangku pelaminan sambil mencium tanganku lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar