Malam itu ditengah hujan yang rintik-rintik, aku tertawa bersama mereka. Bahagia sekali. Tapi akan lebih lengkap lagi bila ada kamu disana yang walau dengan tampilan paling burukmu. Aku tidak mendengar sedikitpun lawakan yang biasa kamu ucapkan itu, kecuali kalau aku yang mengucapkannya. Seandainya ada keajaiban, pria berkulit sawo matang yang manis dan alis mata hitam tiba-tiba muncul dibalik hujan itu... Apakah mungkin aku bisa mendengar suaranya sebentar saja?
Ingin rasanya ku pulang dan menerpa hujan malam itu, karena aku tersadar bahwa aku salah. Iya, aku salah merindukanmu karena kau bukan milikku, tapi aku benar mencintaimu; dan ini menyakitkan. Ku coba untuk menyangkal segala rindu dan ku pandang pada kenyataan yang ada, tapi yang ada aku semakin merindukanmu walau aku tak pantas.
Ditengah keramaian dan tawa itu aku menyadari bahwa hal yang paling merindukan bukan lagi raganya apalagi kenangan bersamanya, melainkan perasaan yang dulu pernah merindukannya dengan sangat.
***
"Kamu ceria sekali malam ini", katanya lesuh dengan muka paling lelahnya sambil memegang pinggangku dan tertawa lembut. Aku hanya bisa meledeknya dan menarik pelan hidungnya yang mancung. Menatap matanya yang indah dan rambutnya yang ikal adalah kenangan yang paling indah. Saat itu hatiku berdegup kencang karena menyadari bahwa pria yang ku rindukan juga merasakan rindu itu. Dan aku merindukan saat seperti itu....... Bukan ketika aku merindukanmu dan ingin menangis, aku malah harus pura-pura tertawa dan mengatakan, "Sudah tidak lagi, kok."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar