"Lihat, dia mengenakan ikat rambut warna cokelat. Cantik ya." katanya sambil tersenyum kepada wanita itu. Ada perasaan yang tulus yang terpancar dari sinar matanya. Apakah rasa sayang dia pada wanita itu sebesar rasa sayangku padanya? Atau mungkinkah wanita itu memiliki perasaan yang sama dengannya?
"Sudah bagaimana hubungan kalian?" kataku sambil mencoba mengalihkan pandanganku dengan memainkan bubblecoco pada minumanku.
"Semalam aku mainkan gitar padanya. Dia memintaku untuk menemaninya. Ntahlah, ku kira permainanku jelek sekali sehingga dia hanya bisa tertawa", jawabnya bahagia dan tak menoleh ke arahku sedikitpun. Dia tetap menatap pada wanita yang tertawa sedari itu.
"Benarkah? Coba aku dengar", pintaku. Ya, izinkan aku merasakan cintamu walau itu bukan untuk ku.
***
Petikan gitar yang lembut dengan aliran akustik ditambah dengan suaranya yang berat dan merdu membawaku hanyut pada kenangan dimana kami pernah bernyanyi bersama. Sesekali ku ganggu dia ketika memainkan gitar itu. Ketika lagu mulai terdengar serius, aku melarikan suaraku (atau memang suaraku yang lari? hhihih). Lalu kau meledekku dan memanyungkan bibirmu, saat itu juga ku balas dengan percikan air di pipetku. Kau membalas dan merangkul leherku dengan lenganmu. Kita tertawa, kita bahagia hingga wanita itu muncul di re-path-an temanmu di Path. Aku ingat kau pernah bilang wanita itu manis. "Lihat rambutnya tergerai, cantik. Kamu tuh, doyan banget kuncir rambut." Aku cuma bisa mengejekmu namun ku coba mengingat setiap perkataanmu. "Namanya Jessika", katamu sambil menatap gadget nya dan aku hanya memperhatikan setiap detail wanita itu. Iya, manis. Dengan senyum yang menampakkan tulang pipinya dan mata yang berbinar serta rambut yang gelombang cantik.
"Terus, kalau dia cantik mau kau apakan?" tanyaku seolah menantang pesonanya. Aku salah menanyakannya itu, karena ku temukan dia mulai berjuang untuk wanita itu.
***
Hari demi hari berlalu. Pembicaraan kita tentang pelajaran, orang orang sekitar, bahkan tanaman yang kering mulai berubah tentang wanita itu. Aku muak, tapi aku pura-pura ikut bahagia. Itu ku lakukan hanya demi bisa berada disampingmu, walau hatiku bersedih. Dari pendengaranku, kau mengajaknya makan malam di salah satu kafe yang romantis di kota ini. Aku cemburu. Karena selama ini kau membicarakan kafe itu pada ku, dan kau pernah bilang bahwa kita akan kesana bersama. "Hei. Aku selalu mendengarmu, apa kau tidak memperhatikan rambutku yang ku gerai ini? Aku menambahkan kacamata. Apa aku cukup menarik perhatianmu?" kataku dalam hati yang kemudian lagi lagi mengecewakanku karena kau pamit pergi dan menemui wanita itu.
Adakah sedikitpun kau tatap aku? Adakah kau ingat sedikitpun kenangan kita? Atau, apakah itu hanya dua insan manusia yang sedang memainkan perannya?
Aku terpaksa berbalik arah, karena ku lihat wanita itu memegang jarimu. Padahal dulu jari jari itu sering bermain adu jari dengan jariku. Jarimu awalnya seperti mau mengalah, tapi yang ada jariku malah memerah karena gencatan jarimu. Kuangkat kepalaku, dan lagi lagi ku tarik napasku dalam........ "Aku kuat."
***
"Kau baik-baik saja?" tanya temanku yang keberadaannya hampir tak ku sadari.
"Karena aku sayang kamu, makanya aku melepaskanmu. Karena aku sayang kamu, makanya aku turut bahagia denganmu", jawabku lirih ketika saat itu ku temukan kau menggandeng bahagia wanita itu menuju sepeda motormu dan melupakan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar