"Jangan kemana-mana", katanya lembut seolah khawatir kalau hal yang tidak mengenakkan terjadi pada ku. Sekali lagi, walau hasratku besar namun tanpa berpikir panjang aku menghentikan langkah kaki ini. Dia selalu benar, aku yakin padanya makanya aku mencintainya.
"Yang kayak begini yang aku tidak suka", katanya marah sambil menatap jam tangannya dan memperbaiki kacamatanya. Tapi dia tidak hanya bisa marah, dia tetap tenang. Dia menarik napasnya dalam seolah sedang berpikir, kemudian dia pergi. Dalam langkahnya itu, ada seuntai harapan dari ku agar apa yang hendak dilakukannya baik-baik saja. Dia selalu luarbiasa, aku percaya padanya, makanya aku mencintainya.
"Aku disini", katanya sambil mengusap kepalaku lembut. Seolah takut dan sedihku hilang seketika. Ya, dia sangat manis, makanya aku mencintainya.
Aku mencintainya, makanya dia pergi.
Dia pergi dan tidak bilang apa-apa. Tapi aku masih mencintainya, karena hanya dengan diam tanpa berbicara pun dia tetap dan masih yang terindah yang mampu menghias relung cintaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar